10 Apr 2012
KREASINOVA (Kreatif, Aspiratif, Inovatif, Dan Ceria) Profil Pustakawan Ideal
6 Apr 2012
Kami Bukan Penata Buku tapi Kami adalah Pustakawan
Di perpustakaan-perpustakaan yang memiliki koleksi-koleksi kuno, sudah terbiasa dengan para pustakawan. Orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga, merawat, mengelola koleksi perpustakaan. Baik itu majalah, buku, naskah kuno, manuskrip, dan catatan-catatan penting.
Menjaga ribuan buku, naskah, dan catatan agar tetap awet sehingga bisa terus mentransfer ilmu pengetahuan bukan hal yang mudah. Seperti pepatah the right man in the right place, begitulah tugas seorang pustakawan di perpustakaan. Mereka tidak asal menata, mendata, dan menjaga buku. Semua ada ilmunya, bahkan hingga jenjang pasca sarjana.
Alasan itulah yang membuat Tri Lestari Megaminingsih menikmati profesinya sebagai pustakawan. Menikmati bercengkrama dengan ribuan buku yang berjajar rapi. Mencium wangi kertas, sampai mengakrabi debu di antara buku-buku.tak tanggung-tanggung sudah hampir tiga dasawarsa dia menjadi seorang pustakawan. Tepatnya 29 tahun sejak pertama kali menjadi PNS di lingkungan Universitas Jember.
Tahun 1982 adalah awal segalanya. Ketika itu, iu tiga orang anak asli Jember ini ditempatkan di perpustakaan Unej sebagai staf perpustakaan. Ketika itu dia memang belum menjadi seorang pustakawan. Baru setelah itu, dia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan tentang perpustakaan di jenjang strata satu. Saat itu, dia sendiri sudah meraih gelar sarjana dari Jurusan FISIP Unej.
“Setelah itu saya melanjutkan ke jenjang S 2,” katanya. Kini, dia disebut sebagai pustakawan ahli. Yakni, pustakawan yang telah menempuh pendidikan S 1 dan S 2. Sedangkan pustakawan terampil adalah pustakawan yang baru menempuh pendidikan diploma.
Bukan hal mudah menjadi seorang pustakawan selama 29 tahun. Tri Lestari telah merasakan suka dan duka bercengkrama bersama buku-buku dan naskah kuno. Di antara sekian banyak hal yang membuat buku atau koleksi perpustakaan menjadi rusak, mahasiswa dianggapnya sebagai musuh terbesar.
Bukan lelucon tentu saja. Karena masih banyak mahasiswa yang kurang menyayangi buku. Mereka menganggap buku hanya sekadar kumpulan kalimat atau paragraph. Mereka tak pernah berusaha memahami bahwa buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Bahwa buku layak diperlakukan dengan baik. “Tapi, banyak dari mereka yang menyobek lembaran buku, mencoret-coret, bahkan mencuri,” katanya.
Prihatin itu pasti. Sebagai pustakawan, bersama teman-temannya, Tri Lestari jelas memahami buku lebih dari sekadar barang. Buku memiliki ceritanya sendiri. Memiliki manfaat dan fungsinya sendiri. Sebagai pustakawan dia harus bisa menjaga dan merawat, menjaga, dan mengatur pengelolaan buku. Tidak dengan asal, ada banyak pelatihan yang harus dia ikuti.
Keuletan dan kesabarannya itu membuat dia mendapatkan penghargaan sebagai pustakawan teladan pada tahun 1994. Keberhasilan ini mengantarnya ke istana Merdeka. Mengikuti pidato kenegaraan Presiden Suharto, dan sederet kegiatan lainnya. Pengalaman yang mengesankan tentu saja. Bahkan, dia pernah berkesempatan berbincang dengan Menteri Pendidikan Ing Wardiman Djojonegoro, saat itu.
Selain Tri Lestari, masih ada pustakawan Unej yang meraih prestasi tingkat nasional. Dia adalah Mahfut, kepala UPTperpustakaan Unej. Ditangannya perpustakaan Unej menjadi salah satu perpustakaan yang paling diperhitungkan di Perguruan tinggi di Indonesia. Semua itu tak lepas dari kerja kerasnya membangun jaringan, infrastruktur dan sumberdaya perpustakaan Unej. “Dulu orang menganggap bagian perpustakaan itu bagian buangan, tapi saya bertekad untuk menunjukan bahwa perpustakaan pun bisa prestasi,” katanya dengan bersemangat.
Mahfut dikenal sebagai orang yang mencintai dunia kepustakawanan. Dengan semangat tak kenal lelah ia terus meningkatkan kemampuan diri. Hal ini ia buktikan dengan kuliah program pasca sarjana bidang kepustakaan di University of New South Wales di Australia dengan konsentrasi bidang Library Science. “Buat saya kalau kita yakin, kita pasti bisa,” kata pria yang gemar membaca buku itu.
Demi membangun perpustakaan Unej, ia tidak main-main. Selepas pulang dari Australia dia mengikuti kompetisi proposal dana hibah bersaing untuk mengembangkan perpustakaan Unej. “Dana dari hibah bersaing itu digunakan untuk membeli DAINIC, software perpustakaan yang hanya Unej di jawa timur yang menggunakannya saat itu,” katanya dengan semangat.
Atas dedikasinya yang tak kenal lelah, pada 2003 kemarin ia diganjar juara 3 pada kompetisi akademisi berprestasi nasional yang diselenggarakan di Jakarta. Kemenangan itu tak diperoleh dengan percuma. Dengan konsep yang cerdas tentang partisispasi perpustakaan dalam pendokumentasian kebudayaan lokal. Mahfut mencetuskan ide bahwa perpustakaan Unej harus menjadi pusat inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan tapal kuda. Yang meliputi kebudayaan Pendalungan, Osing dan Tenger.
Sejauh ini kebudayaan tapal kuda yang telah ia kumpulkan meliputi; upacara adat, mantra-mantra, naskah kuno, kuliner khas, pengobatan tradisional, tarian dan lagu rakyat, serta kerajinan rakyat. Ia mengaku dalam melakukan pengumpulan kebudayaan tadi tidak sendiri, namun juga dibantu para pakar kebudayaan Unej seperti Ayu Sutarto dan Latef Wiyata.
Dengan kerja kerasnya selama bertahun-tahun itu ia mengklaim bahwa perpustakaan Unej merupakan pusat dokumentasi dan inventarisasi kebudayaan tapal kuda terbesar di Indonesia. Tak main-main ia pernah menggaet Huub De Jong penulis; Madura Dalam Empat Jaman sebagai usaha untuk mewujudkan cita-cita itu. “Selain De Jong, ada peneliti jepang yang datang kesini untuk belajar tentang budaya tapal kuda,” katanya.
Mahfut sendiri terinspirasi untuk membuat pusat dokumentasi kebudayaan tapal kuda dari perpustakaan yang ada di Australia. Saat itu ia sangat terpukau dengan Aboriginal Collection yang disimpan di State Library of New Southwales. “Saya masih ingat pustakawannya, Allison Crook, sejak saat itu saya terobsesi untuk bikin yang sama di Indonesia,” katanya.
Dengan segala pencapaiannya saat ini pak Mahfud mengaku masih belum puas. Di masa depan ia ingin perpustakaan Unej menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Hal ini sejalan dengan cita-cita Unej sebagai World Class University.
Sejalan dengan itu ia telah menemukan metode yang sangat efektif yang ia sebut sebagai Library Service Exellence Secret. Dengan metode itu ia harapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan. “Dengan metode itu saya mengharapkan para pustakwan akan bekerja dengan penuh dedikasi.,” katanya dengan penuh harap.
Sayang, nasib pustakawan di mata awam tak lebih dari sekadar penata buku. Padahal, berkat pengetahuan seorang pustakawan, sebuah perpustakaan bisa menjaga koleksinya yang berharga. Menjaga agar ilmu pengetahuan yang tertulis itu tetap bisa dibaca oleh generasi-generasi berikutnya. “Kami bukan hanya sekadar penata buku. Tapi, kami adalah pustakawan. Sebuah profesi yang diakui, bahkan ada pendidikannya,” sambung Wahyudi, salah seorang pustakawan di Perpustakaan Unej
Referensi di kutip dari Kompasiana.com
28 Mar 2012
Konsep Perpustakaan Ideal Untuk Sekolah
25 Mar 2012
Perpustakaan Tidak Butuh Pustakawan Loyo
19 Mar 2012
Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini
Sedih rasanya ketika melihat adik saya lebih sering menghabiskan waktu di depan komputer untuk main game daripada browsing artikel-artikel di internet. Pernah suatu ketika karena adik saya tertarik dengan berita-berita unik di internet tentang UFO, Atlantis, dll saya ajak dia ke warnet untuk membaca artikel-artikel dengan tema-tema tersebut. Tapi karena tulisan-tulisan yang panjang di situs atau blog yang kami kunjungi, dia jadi malas membacanya.
Biasanya ketika seseorang membaca tujuannya adalah memperoleh informasi, hiburan, referensi, atau bisa juga karena kepentingan lain. Pertama kali saya mulai membaca dengan serius adalah ketika seorang guru menyarankan untuk membaca buku sebanyak mungkin ketika liburan puasa satu bulan penuh. Ketika itu saya melahap 5 novel sekaligus yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah.
Beberapa guru juga pernah membuat kompetisi yang hanya terbatas untuk tingkat sekolah saja untuk membuat sinopsis buku dan mencritakannya kembali. Tetapi dengan kompetisi kecil itu, minat baca saya dan teman-teman semakin bertambah besar. Hasilnya saya jadi semakin cinta membaca dan berhasil memperoleh beberapa piagam penghargaan saat mengikuti kompetisi-kompetisi menulis tingkat kabupaten saat SMP. Teman-teman saya pun mendapatkan prestasi serupa. Namun sepertinya kompetisi kecil ini tidak ada lagi. Barangkali dengan kurikulum baru bagi siswa SD yang saya anggap lebih berat dari kuikulum-kurikulum sebelumnya, mereka lebih banyak disibukkan dengan pelajaran-pelajaran yang begitu padat. Tetapi saya berharap setiap guru-guru sekolah dasar di negeri ini mendorong anak-anak SD untuk mau membaca. Dengan arahan langsung ataupun dengan kompetisi-kompetisi kecil.
Apapun itu, budaya membaca harus dibiasakan sejak dini. Ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, maka tulisan sepanjang apapun akan terasa enak dibaca asalkan kita tertarik dengan topik tulisan tersebut. Selain menambah pengetahuan, membaca juga menambah rasa kebahasaan seseorang. Orang yang biasa membaca lebih tahu apa yang harus ia katakan dari pada orang yang tidak biasa membaca.
Orang yang biasa membaca akan mudah mencerna kalimat-kalimat yang ia peroleh dan mengutarakannya kembali. Jika kita membiasakan membaca sejak dini, maka manfaat-manfaat tersebut akan lebih besar terasa dalam diri kita. Membaca itu seperti menanam pohon jati. Menanam sekarang, tapi baru akan menebang kayunya 15, 20, atau 30 tahun mendatang. Mungkin tidak semua yang pernah kita baca akan kita ingat kata demi kata. Tetapi setidaknya dengan membaca kita dapat meningkatkan kualitas diri kita. Terimakasi.
Penulis : Ismail Hidayat
BLOG : http://www.ismailhidayat.com/
14 Mar 2012
DDC 23 Sudah di Terbitkan
Lantas apa sich perbedaan di dalam ddc 23 ini, simak rinciannya dibawah ini :
Pada subjek-subjek ini, DDC memberikan perhatian khusus pada perkembangannya:
- Penmabahan kelas untuk Gereja ortodox, Islam dan 200 agama lainnya
- Nomor-nomor kelas dalam 004-006 Ilmu komputer dan tempat lain untuk mencerminkan perubahan dalam teknologi
- Perubahan signifika pada nomor kelas 370 Pendidikan. Dikembangkan mulai dari jenjang pendidikan, jenis sekolah, masalah kebijakan dan mata pelajaran tertentu dalam pendidikan dasar.
- Nomor baru yang digunakan untuk pengembangan sinematografi dan videografi di nomor kelas 777
- Perkembangan untuk hukum perdata di kelas 340
- Periode sejarah pada Tabel 2 di 930-990, meliputi ancient world,Italia, Swiss, Swedia, Finlandia, Turki, Indonesia, Vietnam dan Kanada
- Perkembangan pada nomor kelas makanan dan pakaian.
- Dekorasi dan seni
- Olahrga dan atletik
- dll.
Ini dia gambar dari ddc 23, bagaimana pendapat anda sendiri? bagus kan ? jelas bagus harganya juga bagus, harganya hampir sama dengan harga sepeda motor , hihihihi :)
harganya di bandrol 179.19 US$.
Di Situs resmi OCLC terpapar jelas rincian harga ddc 23 , bisa di lihat gambar dibawah ini.
Ada dua warna pilihan warna hijau dan warna orange, pilih yang mana?
apakah anda siap untuk membeli...??
Kalo belom siap.......Nabunglah mulai dari sekarang hehehe :)
Ddc 23 terbaru ini sangat cocok untuk Perpustakaan Universitas maupun Perpustakaan Sekolah.
Sedikit informasi dari kami, semoga bermanfaat dan menambah wawasan untuk anda.
Posting Original by Rendra
17 Feb 2012
Pengembangan Perpustakaan Dengan Media IT
Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi banyak membantu dalam pengembangan fasilitas perpustakaan. Meskipun hal ini masih perlu waktu untuk merubah image para pustakawan atau petugas perpustakaan yang tadinya menggunakan sistem manual berubah menjadi sistem yang terotomasi. Dalam era global seperti sekarang ini muncul berbagai perpustakaan yang menerapkan Teknologi Informasi (TI). Istilah perpustakaan maya, perpustakaan elektronik, atau perpustakaan digital selalu menjadi sajian sehari-hari perpustakaan. Bagi sebagian besar perpustakaan di Indonesia, aplikasi TI seperti di negara-negara yang sudah maju merupakan suatu tantangan harus dilaksanakan untuk mendukung tuntutan sebagian pengguna jasa perpustakaan yang memerlukan informasi agar dapat menemukan informasi yang diperlukan dengan mudah dan cepat.
Dengan demikian muncul pertanyaan Bagaimana perpustakaan ideal yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna? Perpustakaan ideal yang mampu memenuhi keinginan pengguna adalah perpustakaan yang menyediakan informasi lengkap, dapat diakses kapan saja, dimana saja dan dipandu oleh pustakawan yang profesional.
Hal ini sebagai akibat dari dampak aplikasi TI dalam kehidupan masyarakat secara luas. Secara teori perpustakaan mutlak harus memakai TI agar tidak ditinggalkan sebagian pengguna jasa tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar perpustakaan di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan TI, sehingga harus ada strategi khusus untuk melaksanakannya.
Pemanfaatan TI akhirnya akan dapat :
1. Meningkatkan kebutuhan pengguna perpustakaan.
2. Meningkatkan kepuasan pengguna perpustakaan.
3. Meningkatkan kepercayaan stake holder terhadap perpustakaan.
4. Meningkatkan kemitraan antara perpustakaan dengan stake holder.
Manfaat digitalisasi koleksi perpustakaaan :
1. Bahan-bahan pustaka seperti buku, skripsi, tesis, disertasi, jurnal ataupun artikel yang ada sangat dimungkinkan untuk tersedia dalam format digital (bukan kertas).
2. Dapat menghemat tempat penyimpanan
3. Bahan pustaka lebih aman dari kerusakan sehingga lebih tahan lama.
4. Web Site perpustakaan dapat diakses oleh banyak orang dan dari manapun.
Pengembangan perpustakaan digital menjadi kegiatan baru dalam membimbing pemakai menggunakan perangkat TI secara optimal untuk menemukan informasi yang dicari. Perkembangan TI ternyata menjadi beban bagi kebanyakan perpustakaan. Banyak perpustakaan yang hanya diberi kesempatan untuk melihat semua perkembangan yang canggih namun belum dapat menerapkannya. Keadaan ini memotivasi pengelola perpustakaan untuk dapat “mendongkrak” posisi perpustakaan pada tingkat yang lebih tinggi.
Untuk itu diperlukan suatu cara yang efektif dalam mengembangkan perpustakaan digital antara lain dengan mengevaluasi tentang pengguna perpustakaan, koleksi dan layanan yang sudah ada, SDM yang dimiliki serta sistem yang dimiliki. Kegiatan perpustakaan dibagi menjadi 5 fungsi yaitu : manajemen koleksi, operasional perpustakaan, layanan perpustakaan, dukungan SDM, dan dukungan TI.
Manajemen Koleksi
1. Melaksanakan Stock Opname koleksi untuk memastikan keberadaan koleksi agar mudah dan cepat ditemukan, dapat diakses serta dipesan melalui web site.
2. Mewujudkan integrated sistem informasi pengadaan koleksi antar perpustakaan agar tidak terjadi duplikasi koleksi.
3. Pengembangan daftar koleksi lokal yang meliputi karya penelitian, skripsi, tesis, artikel dan buku terbitan perguruan tinggi yang bersangkutan.
4. Sosialisasi pemakaian layanan elektronik.
1. Memperbaiki master database berdasar pada stock opname.
2. Pengecekan nomor inventaris dan nomor klasifikasi untuk perbaikan database buku.
3. Penataan koleksi nonbuku, misalnya CD ROM dan kaset.
4. Integrated pengolahan antar perpustakaan yang ada.
Layanan Perpustakaan
1. Integrasi sistem layanan dengan penyesuaian tata tertib yang berlaku pada masing-masing perpustakaan ada.
2. Pengembangan layanan referensi meliputi penelusuran, konsultasi, penataan knowledge.
3. Bimbingan pengguna perpustakaan agar familier me
nggunakan layanan yang terotomasi dan layanan berbasis web.
4. Pengembangan layanan digital dan multimedia.
5. Pengembangan terbitan pustaka (InfoPustaka Online), kliping online dan paket informasi yang lain.
6. Mengupdate informasi yang ada di Web dan perpustakaan sebagai moderator ICS (Information Center Service)
Pengembangan SDM
1. Pengembangan SDM terhadap layanan yang berbasis TI dan menguasai tentang jaringan (networking).
2. Pengembangan SDM sebagai subject specialist dan database developer.
Pengembangan TI
Bekerjasama dengan Pusat Komputer dan Operasional TI untuk terus mengembangkan sistem informasi layanan, penataan sistem informasi dan knowledge digital.
Penerapan teknologi informasi yang dapat digunakan perpustakaan adalah
- Ø Otomasi Perpustakaan
Otomasi perpustakaan adalah suatu teknologi yang digunakan perpustakaan untuk pengolahan, pelayanan dan penelusuran kembali (OPAC). Program yang digunakan oleh perpustakaan adalah program Dynix - Ø CD-ROM
CD-ROM adalah berisikan informasi tentang jurnal yang dikemas dalam bentuk CD dan dioperasikan dengan menggunakan komputer - Ø Internet
Pengunaan Internet di perpustakaan bertujuan untuk penyediaan penyediaan sarana dan prasarana dimana pengguna perpustakaan baik para pengguna jasa perpustakaan. - Ø Digital Library
Digital library adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu tulisan, gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan menyebarluaskan dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Koleksi yang dimasukkan dalam digital library untuk sementara ini adalah skripsi, tesis, makalah.
- Ø Jurnal Elektronik
Jurnal elektronik adalah jurnal yang dikemas dalam bentuk file elektronik dalam penelusuran informasi menggunakan jaringan internet.
Kelemahan yang dihadapi dalam penerapan teknologi informasi di perpustakaan adalah
- Tergantungan pada aliran listrik atau PLN
- Bila komputer rusak layanan terganggu
- Minimnya teknisi komputer
Solusi pemecahan dalam mengatasi kelemahan tersebut adalah
- Perlu adanya jenset untuk mengantisipasi terjadinya mati listrik
- Merekrut tenaga teknisi komputer
- Mengirim pustakawan mengikuti kursus teknisi komputer
- Pengadaaan komputer yang baru
KESIMPULAN
- Digitalisasi koleksi perpustakaan cara efektif supaya masyarakat kembali mencintai perpustakaan.
- Perlu pustakawan yang tekun dan handal dalam mengelola informasi penting dalam internet, pengembangan database, pembuatan paket informasi dan pengelolaan sumber daya informasi lain.
SARAN
- Pelatihan pustakawan agar menjadi handal dalam menghadapi tuntutan digitalisasi perpustakaan.
- Adanya sosialisasi tentang digitalisasi perpustakaan pada masyarakat luas.
- Perlu adanya kerjasama antar semua pihak terkait dalam pengelolaan digitalisasi perpustakaan.
Sumber : di http://www.pemustaka.com/sekarang-zamannya-era-digitalisasi-termasuk-perpustakaan.html
15 Feb 2012
Prospek Lulusan Ilmu Perpustakaan
Apa itu Ilmu Perpustakaan dan Informasi?
Prospek Lulusan
Keuntungan Jadi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Sumber : http://ilmuperpus.wordpress.com
MOTIVASI Mahasiswa Mengikuti Kuliah Jurusan Perpustakaan Universitas Terbuka
MOTIVASI MAHASISWA MENGIKUTI KULIAH JURUSAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS TERBUKA
Oleh: Mochammad Asrukin
Abstrak: Motivasi merupakan tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Penelitian ini dilakukan di Pacitan dengan mengambil objek mahasiswa program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan dengan populasi sebesar 184 orang dan sampel sebesar 40 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,5% memiliki motivasi yang tinggi, sebanyak 22,5% motivasinya sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah. Faktor minat belajar di bidang perpustakaan dan informasi menempati peringkat tertinggi disusul dengan faktor harapan untuk bekerja di bidang pendidikan dan perpustakaan serta informasi, kemudian disusul dengan faktor prospek pekerjaan menempati urutan ketiga. Sedangkan faktor dorongan dari pihak luar menempati posisi terendah dalam mempengaruhi seseorang.
Kata Kunci: Motivasi, Jurusan Ilmu Perpustakaan UT
Pendahuluan
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, maka pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional Indonesia serta tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Karena itu semua warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana ditegaskan dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 UUD 1945 “tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran, dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.
Sistem pengajaran nasional ini telah diselenggrakan oleh pemerintah mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini sampai dengan tingkat pendidikan tinggi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 tahun 1999 Bab II Pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan di perguruan tinggi adalah: a) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian; b) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional; c) mendukung pembangunan masyarakat madani yang demokratis dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri; dan d) mencapai keunggulan kompetitif melalui penerapan prinsip pengelolaan sumber daya sesuai dengan asas pengelolaan yang professional.
Salah satu bentuk pendidikan tinggi negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia adalah Universitas Terbuka. Saat ini Universitas Terbuka telah berusaha untuk melayani kebutuhan pendidikan tinggi warga Negara Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah nusantara dari Sabang sampai Merauke bahkan yang tinggal di luar negeri sekalipun. Untuk itu dibentuklah Unit Pelaksana Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di seluruh propinsi Indonesia, di antaranya adalah UPBJJ – UT Malang.
Pada tahun 2010 ini UPBJJ – UT Malang telah membuka program studi D2 Perpustakaan. Program ini mendapat respon yang positif dari masyarakat Jawa Timur terutama dari daerah Kabupaten Pacitan. UPBJJ – UT Malang untuk Pokjar/Kabupaten Pacitan pada periode 2010/1 ini memiliki 184 mahasiswa yang terbagi menjadi 5 kelas tutorial. Tutorial dilaksanakan di SD Negeri Kebonsari Pacitan sebanyak 4 kelas, dan di UPT Pendidikan Arjosari Pacitan satu kelas. Untuk itu perlu diketahui apa yang menjadi motivasi masyarakat khususnya mahasiswa mengikuti kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan Universitas Terbuka
Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan atau alasan. Motif merupakan tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia bertindak atau melakukan sesuatu.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:80) “Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar”. Sejalan dengan itu, Ratumanan (2002:72) mengatakan bahwa; “Motivasi adalah sebagai dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku”. Sedangkan motivasi belajar adalah “Keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Tadjab, 1994:102)”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa motivasi memiliki 3 komponen, yaitu: a) kebutuhan, kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang dimiliki dari apa yang ia harapkan; b) dorongan, merupakan kegiatan mental untuk melakukan suatu.; dan c) tujuan, tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh individu. Seseorang yang mempunyai tujuan tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan, maka ia akan melakukan pekerjaan tersebut dengan penuh semangat.
Pengaruh motivasi terhadap seseorang tergantung seberapa besar motivasi itu mampu membangkitkan motivasi seseorang untuk bertingkat laku. Dengan motivasi yang besar, maka seseorang akan melakukan sesuatu pekerjaan dengan lebih memusatkan pada tujuan dan akan lebih intensif pada proses pengerjaannya. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegaitan belajar dan memberikan arah pada kegiatna belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.
Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik (Sardiman, 2005:189). Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sejalan dengan itu pula, Suryabrata (1994:72) juga membagi motivasi menjadi 2 yaitu: a) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari luar; dan b) motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi meskipun tidak mendapat rangsangan dari luar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar pada dasarnya ada dua yaitu: motivasi yang datang sendiri dan motivasi yang ada karena adanya rangsangan dari luar. Kedua bentuk motivasi belajar ini sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Setiap motivasi itu bertalian erat hubungan dengan tujuan atau suatu cita-cita, maka makin tinggi harga suatu tujuan itu, maka makin kuat motivasi seseorang untuk mencapai tujuan. Purwanto (1996:70) mengatakan bahwa fungsi motivasi ada 3 yaitu: a) motivasi itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak, motivasi ini berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan energi kepada seseorang untuk melakukan sesuatu; b) motivasi itu menentukan arah perbuatan ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita, dalam hal ini motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu, sehingga makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh; dan c) motivasi itu menyeleksi perbuatan kita, artinya menentukan perbuatan mana yang dilakuan dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan mengenyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.
Dalam kajian teori motivasi ada yang dikenal dengan teori kebutuhan. Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow yang mengemukakan bahwa orang termotivasi untuk melakukan sesuatu karena didasari adanya kebutuhan dalam dirinya, yang terbagi menjadi 5 (lima) kebutuhan yaitu: (1) kebutuhan fisiologis yang merupakan kebutuhan manusia untuk bertahan hidup atau juga disebut kebutuhan pokok yang terdiri dari kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal; (2) kebutuhan rasa aman yang meliputi keamanan akan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja dan jaminan hari tua; (3) kebutuhan sosial yang berupa kebutuhan-kebutuhan seseorang untuk diterima dalam kelompok tertentu yang menyenangkan bagi dirinya; (4) kebutuhan penghargaan seperti halnya kabutuhan bagi seorang pegawai yang bekerja dengan baik tentu ingin mendapat penghargaan dan pengakuan dari atasan ataupun pujian dari teman kerjanya atas prestasinya dan; (5) kebutuhan aktualisasi diri yang berupa kebutuhan yang muncul dari seseorang dalam proses pengembangan potensi dan kemampuannya untuk menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya (Hasibuan, 2003:104-107).
Siagian (2002:107) mengungkapkan teori motivasi yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg yang dikenal dengan Hygiene theory. Menurut teori ini faktor-faktor yang mendorong aspek motivasi adalah keberhasilan, pengakuan sifat pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang, kesempatan untuk meraih kemajuan dan pertumbuhan. Sedangkan faktor higiene yang menonjol ialah kebijaksanaan perusahaan, supervisi, kondisi pekerjaan, upah dan gaji, hubungan dengan rekan sekerja, kehidupan pribadi, hubungan dengan para bawahan, status dan keamanan. Dalam teori ini ada yang disebut dengan istilah faktor pendorong (motivation faktor). Faktor ini dapat menyebabkan peningkatan kepuasan kerja, namun pengurangan terhadap faktor ini tidak secara otomatis mengakibatkan munculnya ketidakpuasan kerja. Di lain pihak adanya peningkatan faktor yang menimbulkan ketidak puasan cenderung untuk mengurangi ketidakpuasan kerja. Akan tetapi walaupun ada penambahan dalam faktor-faktor ini, ternyata tidak secara otomatis dapat mendorong munculnya kepuasan kerja. Jadi faktor pendorong merupakan faktor yang meningkatkan kerja sedangkan faktor penyehat sebagai pemelihara kerja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, manusia membutuhkan kebutuhan kesehatan dan selanjutnya setiap individu memiliki peluang untuk mengembangkan dirinya.
Sejalan dengan dua teori ketuhan terdahulu, Alferder mengelompokkan kebutuhan menjadi tiga kelompok, yaitu : (1) kebutuhan keberadaan yang berkaitan dengan kebutuhan untuk bisa tetap bertahan hidup seperti halnya kebutuhan untuk tetap dapat makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan sebagainya seperti halnya kebutuhan fisiologisnya Maslow; (2) kebutuhan berhubungan yang merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan hidup dan juga lingkungan kerja dan ; (3) kebutuhan berkembang yang merupakan kebutuhan yang berhubungan dengan keinginan intrinsik dari seseorang untuk mengembangkan dirinya. (Thoha, 2004:233)
Pada sisi lain Mc Clelland (Mangkunegara, 2004:97) menyebutkan juga adanya tiga kebutuhan manusia, yaitu : (1) Need for achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah; (2) Need for affiliation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi atau bergabung dan bercampur dengan orang lain yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa merugikan orang lain dan ; (3) Need for power, yaitu kebutuhan untuk mimiliki kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencari otoritas dan memiliki pengaruh terhadap orang lain.
Dari teori-teori motivasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebutuhan merupakan dasar yang sangat fundamental bagi perilaku seseorang. Karena itu jika kebutuhan seseorang tidak terpenuhi cenderung untuk malas bekerja, sebaliknya jika kebutuhannya terpenuhi maka seseorang akan memiliki gairah kerja bahkan dengan semangat yang lebih tinggi.
Univesitas Terbuka
Universitas Terbuka bertekad untuk menjadi salah satu institusi Pendidikan Jarak Jauh (PTJJ) unggulan diantara institusi PTJJ di Asia tahun 2010 dan di dunia tahun 2020. Untuk mendukung visi tersebut, Universitas Terbuka memiliki misi sebagai berikut:
- Memperluas kesempatan belajar pada jenjang pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang berkualitas.
- Menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan/atau profesional yang mampu bersaing secara global.
- Meningkatkan partisipasi masyarakat pengguna dalam pendidikan berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society).
- Meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan sistem PJJ, khususnya PTJJ.
- Menyebarluaskan dan berbagai informasi tentang PJJ, khususnya PTJJ secara inovatif dan berkesinambungan.
- Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa melalui pelayanan pendidikan tinggi secara luas dan merata.
- Meningkatkan pemahaman lintas budaya dan jaringan kerjasama melalui kemitraan pendidikan pada tingkat lokal, nasional, dan global.
- Menghasilkan produk-produk akademik dalam bidang PJJ, khususnya PTJJ, dan bidang keilmuan lainnya.
UT adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ke-45 di Indonesia yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh. Sistem belajar ini terbukti efektif untuk meningkatkan daya jangkau dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil, baik di seluruh nusantara maupun di berbagai belahan dunia.
Sejak diresmikan pada tahun 1984, UT mendapatkan mandat dari pemerintah untuk memberikan kesempatan yang sangat luas kepada semua warga negara Indonesia, baik yang baru lulus SLTA maupun yang sudah bekerja untuk mengikuti pendidikan tinggi tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, umur, dan tempat tinggal mereka. Sistem pembelajaran UT memungkinkan belajar yang fleksibel kepada mereka yang tidak memperoleh kesempatan mengikuti sistem pendidikan tinggi tatap muka.
Tanpa memandang kondisi mahasiswa, sistem belajar terbuka dan jarak jauh yang diterapkan UT membantu pencapain tujuan belajar karena:
- tidak ada pembatasan jangka waktu penyelesaian studi dan tidak memberlakukan sistem drop out;
- tidak ada pembatasan, baik tahun kelulusan ijazah SLTA maupun umur;
- waktu pendaftaran (registrasi) leluasa sepanjang tahun;
- ruang, waktu, dan tempat belajar yang fleksibel sesuai dengan kondisi mahasiswa;
- penggunaan materi belajar multimedia, termasuk bahan belajar cetak baik yang dilengkapi dengan kaset audio dan video/CD, CD-ROM, siaran radio dan TV, maupun bahan belajar berbasis komputer dan internet.
Dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 460.000, UT tergolong dalam “The Top Ten Mega University of the World” dan salah satu anggota sekaligus pendiri “The Global Mega-University Network (GMUNET). GMUNET didirikan pada tahun 2003 merupakan jaringan universitas terbuka seluruh dunia dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar lebih dari 100.000 orang
UT telah mendapatkan akreditasi, baik akreditasi nasional maupun internasional. Secara internasional, UT telah memperoleh Akreditasi Internasional dan Sertifikasi Kualitas dari the International Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA), dan UT telah mendapatkan ISO dan SGS 9001:2000 dalam berbagai bidang dari Badan Sertifikasi SAI Global dan SGS. Di samping itu, sebagian besar program studi di UT telah mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Saat ini UT memiliki empat fakultas dan satu program pascasarjana yang menawarkan lebih dari 30 program studi dengan jenjang yang bervariasi meliputi: Program Magister, Program Sarjana/S1, Program Diploma(D1, D2, D3 dan D4), dan Sertifikat. Di antaranya adalah program D2 Ilmu Perpustakaan yang merupakan objek studi dalam penelitian ini.
Metodologi Penelitian
Dalam semua kegiatan penelitian pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (2000:15) dikemukakan bahwa rancangan penelitian merupakan statu strategi untuk mengatur latar penelitian agar peneliti dapat memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variable dan tujuan penelitian.
Rancangan penelitian ini digunakan sebagai patokan dalam mengadakan kegiatan penelitian. Dalam kegiatan penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan studi eksploratori. Menurut Setyadin (2005:12) exploratory study merupakan sebuah kegiatan penelitian yang berusaha mengumpulkan indikator-indikator data variabel, kemudian menganalisisnya untuk menemukan konsep atau teori baru.
Sebagaimana dijelaskan pada bagian rancangan penelitian, bahwa penelitian ini termasuk dalam katagori penelitian eksploratori yang berusaha mengkaji objek penelitian melalui pengumpulan indikator-indikator data variabel. Dalam penelitian hanya mendeskripsikan variable tunggal. Tidak berusaha mengungkapkan hubungan antar variable maupun antar sub variabel. Variabel yang dimaksudkan adalah data yang berkaitan motivasi masyarakat khususnya mahasiswa mengikuti kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan
Variabel motivasi memiliki dua sub-variabel yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik sebagai sub variabel memiliki tiga indikator yang berupa harapan, minat dan bakat. Sedangkan sub variabel motivasi ekstrinsik memiliki indikator yang berupa dorongan dari orang lain, kondisi ekonomi, prospek karir lulusan, sistem pendidikan dan tenaga pengajar.
Pada bagian pendahuluan telah disebutkan bahwa jumlah mahasiswa program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan sebanyak 184 mahasiswa yang terbagi menjadi 5 kelas tutorial. Karena itu maka penelitian ini menggunakan studi sampel yang diupayakan dapat mewakili populasi dengan memperhatikan kelas tutorial.
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, atau sejumlah atau kumpulan benda yang menjadi obyek penelitian. Dalam hal ini maka jumlah populasi adalah 184. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dipandang dapat mewakili populasi. Dengan menggunakan prinsip area random sampling maka diambil 40 mahasiswa sebagai sampel penelitian yang terdiri dari 8 mahasiswa kelas Arjosari dan 32 mahasiswa kelas Pacitan Bangunsari.
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini diperlukan adanya metode penelitian dan instrumen penelitian. Metode penelitian haruslah dibedakan dengan instrumen penelitian. Metode penelitian adalah metode yang digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah yang muncul dalam bagian rumusan masalah. Untuk mengumpulkan data tentang motivasi mahasiswa mengikuti kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan digunakan metode angket. Sedangkan instrumen adalah alatnya atau disebut juga sebagai alat bantu sebuah metode atau alat yang digunakan untuk mengumpulkan data sesuai dengan metode yang digunakan.
Data hasil penelitian tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif yang berupa prosentase dengan memperhatikan kemungkinan pencapaian kumulatif skor tertinggi suatu variabel berdasarkan skor skala penilaian dan kemungkinan pencapaian skor kumulatif variabel yang sama serta interval kelas yang terdiri dari tiga macam kategori, yaitu tinggi sedang dan rendah.
Hasil Penelitian
Dari hasil perhitungan dan analisis terhadap hasil penelitian yang dilakukan dapat dikatakan bahwa:
Faktor 1 menggambarkan tentang motivasi mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah ingin mendapatkan ilmu perpustakaan, usaha di bidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 1 sampai dengan nomor 4 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 20 dan skor terendah adalah 4 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 32 orang (80%) sedangkan 8 orang (20%) lainnya bermotivasi sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.
Faktor 2 menggambarkan tentang motivasi mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah minat di bidang ilmu perpustakaan dan minat di bidang ilmu informasi.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 5 dan 6 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah, serta skor tertinggi adalah 10 dan skor terendah adalah 2 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 33 orang (82,5%) sedangkan 7 orang (17,5%) lainnya bermotivasi sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.
Faktor 3 menggambarkan tentang motivasi mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah bakat di bidang ilmu perpustakaan dan bakat di bidang ilmu informasi.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 7 dan 8 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 10 dan skor terendah adalah 2 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 18 orang (45%) sedangkan 20 orang (50%) lainnya bermotivasi sedang, dan 2 orang (5%) motivasinya rendah.
Faktor 4 menggambarkan tentang motivasi eksintrik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah adanya dorongan dari guru, orang tua, teman dan dorongan dari masyarakat.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 9 sampai dengan nomor 12 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 20 dan skor terendah adalah 4 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 7 orang (17,5%) sedangkan 25 orang (62,5%) lainnya bermotivasi sedang dan 8 orang (20%) motivasinya rendah.
Faktor 5 menggambarkan tentang motivasi ekstrinsik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah faktor biaya masuk kuliah, biaya selama kuliah dan faktor ekonomi orang tua.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 13 sampai dengan nomor 15 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 15 dan skor terendah adalah 3 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 24 orang (60%) sedangkan 8 orang (20%) lainnya bermotivasi sedang dan 8 orang (20%) motivasinya rendah.
Faktor 6 menggambarkan tentang motivasi ekstrinsik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah faktor kemudahan untuk bekerja di bidang pendidikan, bekerja di bidang perpustakaan dan juga kemudahan bekerja di bidang informasi.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 16 sampai dengan nomor 18 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 15 dan skor terendah adalah 3 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 27 orang (67,5%) sedangkan 13 orang (32,5%) lainnya bermotivasi sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.
Faktor 7 menggambarkan tentang motivasi ekstrinsik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah kemudahan sarana transportasi dalam mengikuti tutorial, dapat kuliah di perguruan tinggi negeri, tutor atau dosen yang berkualitas dan berkompetensi dalam bidangnya serta sistem perkuliahan dengan modul.
Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 19 sampai dengan nomor 22 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 20 dan skor terendah adalah 4 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 25 orang (62,5%) sedangkan 14 orang (35%) lainnya bermotivasi sedang dan 1 orang (2,5%) yang motivasinya rendah.
Berdasarkan semua faktor diteliti yaitu dari faktor 1 sampai dengan faktor 7 dapat dikatakan bahwa 27 orang (67,5%) memiliki motivasi yang tinggi untuk kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan, sebanyak 13 orang (22,5%) motivasinya sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.
Kesimpulan dan saran
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan atau alasan. Motif merupakan tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia bertindak atau melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan.
Penelitian ini dilakukan di Pacitan dengan mengambil objek mahasiswa program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan dengan populasi sebesar 184 orang. Dengan menggunakan prinsip area random sampling maka diambil 40 mahasiswa sebagai sampel penelitian yang terdiri dari 8 mahasiswa kelas Arjosari dan 32 mahasiswa kelas Pacitan Bangunsari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 orang (67,5%) memiliki motivasi yang tinggi untuk kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan, sebanyak 13 orang (22,5%) motivasinya sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah. Faktor minat belajar di bidang perpustakaan dan informasi menempati peringkat tertinggi disusul dengan faktor harapan untuk bekerja di bidang pendidikan dan perpustakaan serta informasi, kemudian disusul dengan faktor prospek pekerjaan menempati urutan ketiga. Sedangkan faktor dorongan dari pihak luar menempati posisi terendah dalam mempengaruhi seseorang untuk kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan.
Penelitian ini bersifat deskriptif, menggambarkan sesuatu yang menyebabkan adanya perilaku seseorang dalam bertindak. Faktor ini dinyatakan oleh para ahli pendidikan sebagai faktor yang memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar. Karena itu diperlukan penelitian berikutnya yang berkaitan dengan hubungan motivasi masuk kuliah dengan prestasi belajar mahasiswa.
Daftar Pustaka
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasibuan. 2003. Organisasi dan motivasi dasar peningkatan produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara.
Purwanto. 1995. Analisis pembelajaran. Jakarta: Ditjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sardiman. 2001. Interaksi & motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Grafindo Persada
Setyadin, Bambang. 2005. Reduksi data melalui analisis faktor eksploratori. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Kuantitatif di Malang. Malang: Pusat Penelitian Universitas Negeri Malang tanggal 8-12 Desember.
Siagian, S.P. 2002. Kiat meningkatkan produktivitas kerja. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Thoha. M. 2004. Perilaku organisasi konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman penulisan karya ilmiah: skripsi, tesis, disertasi, artikel, makalah, laporan penelitian. Edisi keempat. Malang: BAAK.
Universitas Terbuka. 2010. Visi dan Misi. http://www.ut.ac.id. Diunduh tanggal 10 Mei 2010.
Sumber : library.um.ac.id

