SLiMS Zone

More Post »

Ruang Baca

More Post »

Teknologi

More Post »

e-DDC Zone

Tampilkan postingan dengan label Ruang Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Baca. Tampilkan semua postingan

10 Apr 2012

KREASINOVA (Kreatif, Aspiratif, Inovatif, Dan Ceria) Profil Pustakawan Ideal

“Membaca dapat membuka jendela dunia”. Begituah ungkapan yang sering kita dengar untuk memotivasi anak, siswa, mahasiswa, dan masyarakat di sekitar kita agar gemar membaca. Membaca erat hubungannya dengan perpustakaan sebagai tempat buku-buku berada.

Menurut Wikipedia on line, Perpustakaan merupakan tempat koleksi buku dan majalah. Perpustakaan akan berdaya guna tinggi jika memiliki profil pustakawan yang ideal. Permasalahannya adalah apa sajakah ciri- ciri yang harus dimiliki seseorang agar dapat dikatakan sebagai pustakawan yang ideal?, di sini penulis akan mencoba untuk memberikan beberapa kriteria profil pustakawan yang ideal. Kriteria tersebut antara lain:

1. Profesional

Sebagai pemberi jasa layanan pencarian”search”, seorang pustakawan dituntut ahli dalam bidangnya. Untuk dapat menjadi ahli dalam bidangnya maka harus melalui pendidikan atau sekolah khusus profesi pustakawan baik D3 maupun S1, bahkan S2 atau S3 kalau ada. Jika sekolah profesi ini tidak ada di dalam negeri maka jenjang pendidikan tersebut dapat ditempuh di luar negeri. Jika di luar negri sulit di temukan maka peminat juga dapat mengajukan proposal pendirian sekolah profesi ini ke menteri pendidikan agar mendapat respon dan tindak lanjut.

Pustakawan yang ideal harus memiliki gelar sesuai dengan bidang yang di ampu, misalnya Sarjana Perpustakaan (SPerp), Master Perpustakaan(MPerp), dan seterusnya. Hal ini sangat penting guna kelangsungan jenjang dan perhitungan angka kridit bagi profesi ini.

2. Menguasai IT

Seiring dengan perkembangan teknologi, informasipun semakin banyak dan beragam. Kehadiran internet sebagai media informasi membawa perubahan yang besar di berbagaia bidang, tidak terkecuai perpustakaan sebagai salah satu sarana pencarian informasi.

Dengan mengunakan internet, informasi lebih mudah didapatkan hanya dengan mengetikkan kata kuncinya saja pada “search engine”, misalnya pada google dan yahoo yang saat ini begitu larisnya. “ Lalu apa pekerjaan pustakawan kalau sudah begitu?”, “apakah pustakawan tidak diperlukan lagi?”, “Tentu tidak demikian”. Peran pustakawan di sini masih banyak, antara lain:

Menyediakan alamat-alamat Web dan catalog web untuk berbagai bidang, misalnya informasi tentang peternakan, pertanian, kesehatan dan kedokteran, pendidikan, hubungan internasional, ketenagakerjaan, hukum, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, farmasi, perindustrian astronomi, robot, inovasi teknologi, motivasi, bisnis, perindustrian dan sebagainya.
Menyediakan dan membantu pencarian jurnal-jurnal dengan mengetahui cara mengoleksi dan menata alamat-alamat situsnya dengan teratur, misalnya jurnal Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran, Peternaan, dan sebagainya.
Membuat dan mengisi Web perpustakaannya dengan link-link yang unik dan teratur sedemikian rupa, sehingga memudahkan user dalam pencarian informasinya.
Membuat link berita terkini yang berisi informasi-informasi hangat yang up to date diberbagai bidang, antara lain bidang pendidikan misalnya tentang EBTANAS, kesehatan misalnya tentang mewabahnya flu babi oleh virus H1N1, dan lain-lain
Membuat link berita terlaris saat ini
Membuat link berita lomba bulan ini dan berikutnya
Membuat link abstrak-abstrak penelitian
Membuat link jurnal
Membuat link buku terbaru
Membuat link buku terlaris baik dalam maupun luar negeri
Membuat link Majalah
Link artikel
Karya sastra
kebudayaan
Link Koran dan lain-lain
Pustakawan yang ideal mutlak memiliki kemampuan dan sense yang kuat terhadap perkembangan IT.

3. Performent yang Bagus

Penampilan yang rapi, bersih, harum, murah senyum, dan melayani dengan sepenuh hati merupakan cerminan performen seorang pustakawan yang ideal. Ia harus memiliki prinsip bahwa dengan melayani user sampai mendapatkan informasi yang diinginkan merupakan keberhasilan tersendiri yang harus dicatat pada memo hariannya. Keberhasilan ini hendaknya menjadi kebahagiaan tersendiri yang tak bisa diukur dengan materi.

Catatan seberapa banyak user yang telah dibantu untuk mendapatkan judul, masalah, atau informasi perlu dibukukan. Buku ini kemudian dapat dijadikan salah satu laporan kenaikan tingkat atau laporan kepada atasan.

Seberapa lelah pun, seorang pustakawan yang ideal harus murah senyum terhadap user dan teamnya. Senyum akan memberikan kesan nyaman dan bersahabat kepada user, sehingga user betah di perpustakaan dan merasa senang.

4. Inovatif

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, inovatif berasal dari kata inovasi yang berarti penemuan baru yang berbeda dari yang telah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Sedangkan inovatif sendiri berarti kemempuan untuk berinovasi atau kemampuan untuk mengadakan inovasi. Pustakawan yang ideal diharapkan memiliki sikap yang senantiasa mengeksplorasi lingkungannya dan menginfestasi kemungkinan-kemungkinan baru, memiliki rasa kekaguman (sense of awe). Contoh nyata dari sikap tersebut misalnya, seorang pustakawan mampu mengajukkan proposal buku-buku yang bermutu, memasang poster buku baru yang menarik, menulis synopsis dari buku tersebut. Memasang link-link terbaru dan meng up date nya setiap hari guna kepentingan user.

Pustakawan yang ideal memiliki sikap yang “Committed to learning” , yaitu berusaha mencari pengetahuan secara terus menerus, mensintesakan segala input, menyeimbangkan segala informasi yang terkumpul, dan menyelaraskan setiap tindakkan. Keinovatifan seorang pustakawan sangat diperlukan guna peningkatan kemajuan sebuah perpustakaan yang selalu tanggap terhadap perkembangan jaman.

5. Mampu Melaksanakan Menejemen Informasi Perpustakaan

Manajemen informasi perpustakaan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan sebuah perpustakaan. Tiga hal pokok yang merupakan manajemen informasi perpustakaan, antara lain:

Perolehan informasi, bagaimana seluruh informasi dapat diperoleh untuk kepentingan pengguna
Penataan Informasi, yaitu informasi-informasi yang telah diperoleh sedemikian rupa ditata menurut subyek, kata kunci, judul, penerbit, pengarang, atau dari asalnya misalnya web, link, atau situs-situs tertentu, CD, video, surat kabar, majalah dan sebagainya. Penataan yang teratur seperti ini akan memudahkan kita dalam pencarian informasi kembali.
Pencarian kembali informasi, yaitu ketika pengguna berkunjung ke perpustakaan maka tugas seorang pustakawan adalah dapat membantu pencarian sasaran informasi dengan cepat karena ia telah mengetahui tempat informasi tersebut.
Pustakawan haruslah merupakan team yang sholid, yang mampu bekerja sama. Setiap pustakawan memiliki tugas yang berbeda-beda namun satu tujuan yaitu kepuasan dari pengguna. Menginggat tiga hal pokok manajemen perpustakaan, maka pustakawan yang ideal harus mampu bekerj secara efektif dan efisien. Efektif dalam perolehan informasi dan efisien dalam waktu. Efektif dalam pencarian kembali informasi dan efisien terhadap waktu. Dari tiga hal pokok tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang pustakawan yang ideal adalah pustakawan yang mampu melaksanakan manajemen informasi perpustakan secara efektif dan efisien.

6. User Oriented (berorientasi kepada pengguna)

Sebagai penyedia jasa seorang pustakawan harus memiliki prinsip “User Oriented”, yaitu dengan tujuan untuk kepuasan penguna. Pustakawan yang ideal akan terbuka terhadap kritik dan saran dari pengguna baik secara langsung maupun pengaduan pengguna baik secara elektronik maupun langsung, demi perbaikan layanan dan kepuasan pengguna.

7. Santun dan tegas terhadap pelanggaran

Pengguna sebagai manusia biasa kadang-kadang ada saja yang tidak mau membaca tata tertib perpustakaan, ketidak tahuan dan ketidak perdulian pengguna perpustakaan terkadang dapat merugikan pengguna yang lain. Contohnya ada pengguna yang merobek buku untuk keperluannnya sendiri. Tentu hal ini akan merugikan pengguna yang lain dalam pencarian informasi berikutnya. Oleh karena itu pustakawan yang ideal harus mengingatkan dengan santun tetapi tegas. Misalnya dengan pemberian sangsi mengembalikan lembar yang telah disobek dengan rapi kembali atau dapat juga dengan menganti membelikan buku yang sama. Sehingga dapat menjadi peringgatan bagi pengguna yang lain.

8. Special Day to User

Dalam pelayanan terhadap pengguna, seorang pustakawan yang ideal akan memikirkan bagaimana pengguna terkesan terhadap etos kerja dan pelayanannya. Pemberian Special Day to User, misalnya di setiap hari Senin ada “Coffee break” dan lain-lain. Hal ini akan memberikan resfek yang positif kepada pengunjung. Penggunjung akan merasa diperhatikan dan betah dalam mencari informasi dan wawasan.

9. Pandai dalam menggalang dana

Koleksi buku-buku yang lengkap, link-link yang lengkap dan up to date sangat diperlukan pada perpustakaan yang maju. Seorang pustakawan yang ideal mampu melakukan kerjasama dengan semua instansi baik swasta maupun pemerintah. Bentuk dan metode kerjasama dapat bermacam-macam antara lain:

Kerjasama dengan instansi pendidikan
Kerjasama dengan perusahaan
Kerjasama dengan perpustakaan lain
Kerjasama dengan stike holder dan berbagai instansi lain
Kerja sama dengan instansi pendidikan dapat berupa fasilitas peminjaman buku-buku pelajaran dengan cara yang lebih mudah untuk siswa di sekolah tersebut. Pihak perpustakaan mendapat informasi buku apa saj yang harus dikoleksi dari sekolah yang membutuhkannya. Selain itu pihak instansi pendidikan dapat menyumbang untuk perkembangan perpustakaan dengan dana seiklhasnya.

Kerjasama dengan perusahaan dapat dilakukan dalam hal penggalangan dana. Pembelian buku yang lengkap dan memuat berbagai topik serta buku –buku terbaru membutuhkan dana yang tidak sedikit, oleh karena itu kerjasama dengan perusahaan dalam rangka mendapatkan dana sangat diperlukan. Pihak perpustakaan dapat menyediakan buku-buku tentang bisnis, motivasi dan kiat-kiat membangun perusahaan yang sukses, memasang poster perusahaan penyandang dana, mempromosikan jenis usaha, produk dari perusahaan dan sebagainya. Pihak perusahaan dapat membantu pihak perpustakaan dalam bentuk pemberian dana. Kerjasama yang baik antara kedua belah pihak akan memberikan kontribusi yang baik untuk kemajuan sebuah perpustakaan.

10. Dirindukan Pengguna dan Masyarakat sekitarnya

Oleh karena kiprah dan keberadaanya yang sangat membantu dan berguna bagi masyarkat sekitarnya, mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada pengunjung, maka keberadaan pustakawan yang ideal sangat dirindukan oleh user nya. Kehadiran dan jasanya sangat dinantikan.

“Semoga bangsa Indonesia mendapatkan pustakawan-pustakawan yang ideal, yang mampu memberi inspirasi, motivasi dan pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat.” “Semakin banyak informasi, pengetahuan, inovasi, keceriaan, kegairahan dalam membaca dan mencari wawasan maka semakin cerdaslah suatu bangsa.”

Penulis: Sri Utaminingsih
Jawa Timur
dikutip dari http://pemustaka.com

6 Apr 2012

Kami Bukan Penata Buku tapi Kami adalah Pustakawan

“Barangsiapa yang mencuri buku ini dari pemiliknya, atau meminjam dan tidak mengembalikannya..semoga dia menderita kelumpuhan, dan seluruh anggota badannya hancur. Semoga cacing menggerogoti isi perutnya, dan ketika akhirnya dia menerima hukumannya yang terakhir, semoga api neraka membakarnya untuk selama-lamanya.” Kutipan yang berasal dari kutukan dalam manuskrip abad pertengahan dari Biara San Pedro Barcelona ini, menunjukkan bahwa sejak dulu, buku atau manuskrip, atau catatan adalah harta yang berharga.

Di perpustakaan-perpustakaan yang memiliki koleksi-koleksi kuno, sudah terbiasa dengan para pustakawan. Orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga, merawat, mengelola koleksi perpustakaan. Baik itu majalah, buku, naskah kuno, manuskrip, dan catatan-catatan penting.

Menjaga ribuan buku, naskah, dan catatan agar tetap awet sehingga bisa terus mentransfer ilmu pengetahuan bukan hal yang mudah. Seperti pepatah the right man in the right place, begitulah tugas seorang pustakawan di perpustakaan. Mereka tidak asal menata, mendata, dan menjaga buku. Semua ada ilmunya, bahkan hingga jenjang pasca sarjana.

Alasan itulah yang membuat Tri Lestari Megaminingsih menikmati profesinya sebagai pustakawan. Menikmati bercengkrama dengan ribuan buku yang berjajar rapi. Mencium wangi kertas, sampai mengakrabi debu di antara buku-buku.tak tanggung-tanggung sudah hampir tiga dasawarsa dia menjadi seorang pustakawan. Tepatnya 29 tahun sejak pertama kali menjadi PNS di lingkungan Universitas Jember.

Tahun 1982 adalah awal segalanya. Ketika itu, iu tiga orang anak asli Jember ini ditempatkan di perpustakaan Unej sebagai staf perpustakaan. Ketika itu dia memang belum menjadi seorang pustakawan. Baru setelah itu, dia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan tentang perpustakaan di jenjang strata satu. Saat itu, dia sendiri sudah meraih gelar sarjana dari Jurusan FISIP Unej.

“Setelah itu saya melanjutkan ke jenjang S 2,” katanya. Kini, dia disebut sebagai pustakawan ahli. Yakni, pustakawan yang telah menempuh pendidikan S 1 dan S 2. Sedangkan pustakawan terampil adalah pustakawan yang baru menempuh pendidikan diploma.

Bukan hal mudah menjadi seorang pustakawan selama 29 tahun. Tri Lestari telah merasakan suka dan duka bercengkrama bersama buku-buku dan naskah kuno. Di antara sekian banyak hal yang membuat buku atau koleksi perpustakaan menjadi rusak, mahasiswa dianggapnya sebagai musuh terbesar.

Bukan lelucon tentu saja. Karena masih banyak mahasiswa yang kurang menyayangi buku. Mereka menganggap buku hanya sekadar kumpulan kalimat atau paragraph. Mereka tak pernah berusaha memahami bahwa buku adalah sumber ilmu pengetahuan. Bahwa buku layak diperlakukan dengan baik. “Tapi, banyak dari mereka yang menyobek lembaran buku, mencoret-coret, bahkan mencuri,” katanya.

Prihatin itu pasti. Sebagai pustakawan, bersama teman-temannya, Tri Lestari jelas memahami buku lebih dari sekadar barang. Buku memiliki ceritanya sendiri. Memiliki manfaat dan fungsinya sendiri. Sebagai pustakawan dia harus bisa menjaga dan merawat, menjaga, dan mengatur pengelolaan buku. Tidak dengan asal, ada banyak pelatihan yang harus dia ikuti.

Keuletan dan kesabarannya itu membuat dia mendapatkan penghargaan sebagai pustakawan teladan pada tahun 1994. Keberhasilan ini mengantarnya ke istana Merdeka. Mengikuti pidato kenegaraan Presiden Suharto, dan sederet kegiatan lainnya. Pengalaman yang mengesankan tentu saja. Bahkan, dia pernah berkesempatan berbincang dengan Menteri Pendidikan Ing Wardiman Djojonegoro, saat itu.

Selain Tri Lestari, masih ada pustakawan Unej yang meraih prestasi tingkat nasional. Dia adalah Mahfut, kepala UPTperpustakaan Unej. Ditangannya perpustakaan Unej menjadi salah satu perpustakaan yang paling diperhitungkan di Perguruan tinggi di Indonesia. Semua itu tak lepas dari kerja kerasnya membangun jaringan, infrastruktur dan sumberdaya perpustakaan Unej. “Dulu orang menganggap bagian perpustakaan itu bagian buangan, tapi saya bertekad untuk menunjukan bahwa perpustakaan pun bisa prestasi,” katanya dengan bersemangat.

Mahfut dikenal sebagai orang yang mencintai dunia kepustakawanan. Dengan semangat tak kenal lelah ia terus meningkatkan kemampuan diri. Hal ini ia buktikan dengan kuliah program pasca sarjana bidang kepustakaan di University of New South Wales di Australia dengan konsentrasi bidang Library Science. “Buat saya kalau kita yakin, kita pasti bisa,” kata pria yang gemar membaca buku itu.

Demi membangun perpustakaan Unej, ia tidak main-main. Selepas pulang dari Australia dia mengikuti kompetisi proposal dana hibah bersaing untuk mengembangkan perpustakaan Unej. “Dana dari hibah bersaing itu digunakan untuk membeli DAINIC, software perpustakaan yang hanya Unej di jawa timur yang menggunakannya saat itu,” katanya dengan semangat.

Atas dedikasinya yang tak kenal lelah, pada 2003 kemarin ia diganjar juara 3 pada kompetisi akademisi berprestasi nasional yang diselenggarakan di Jakarta. Kemenangan itu tak diperoleh dengan percuma. Dengan konsep yang cerdas tentang partisispasi perpustakaan dalam pendokumentasian kebudayaan lokal. Mahfut mencetuskan ide bahwa perpustakaan Unej harus menjadi pusat inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan tapal kuda. Yang meliputi kebudayaan Pendalungan, Osing dan Tenger.

Sejauh ini kebudayaan tapal kuda yang telah ia kumpulkan meliputi; upacara adat, mantra-mantra, naskah kuno, kuliner khas, pengobatan tradisional, tarian dan lagu rakyat, serta kerajinan rakyat. Ia mengaku dalam melakukan pengumpulan kebudayaan tadi tidak sendiri, namun juga dibantu para pakar kebudayaan Unej seperti Ayu Sutarto dan Latef Wiyata.

Dengan kerja kerasnya selama bertahun-tahun itu ia mengklaim bahwa perpustakaan Unej merupakan pusat dokumentasi dan inventarisasi kebudayaan tapal kuda terbesar di Indonesia. Tak main-main ia pernah menggaet Huub De Jong penulis; Madura Dalam Empat Jaman sebagai usaha untuk mewujudkan cita-cita itu. “Selain De Jong, ada peneliti jepang yang datang kesini untuk belajar tentang budaya tapal kuda,” katanya.

Mahfut sendiri terinspirasi untuk membuat pusat dokumentasi kebudayaan tapal kuda dari perpustakaan yang ada di Australia. Saat itu ia sangat terpukau dengan Aboriginal Collection yang disimpan di State Library of New Southwales. “Saya masih ingat pustakawannya, Allison Crook, sejak saat itu saya terobsesi untuk bikin yang sama di Indonesia,” katanya.

Dengan segala pencapaiannya saat ini pak Mahfud mengaku masih belum puas. Di masa depan ia ingin perpustakaan Unej menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Hal ini sejalan dengan cita-cita Unej sebagai World Class University.

Sejalan dengan itu ia telah menemukan metode yang sangat efektif yang ia sebut sebagai Library Service Exellence Secret. Dengan metode itu ia harapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan. “Dengan metode itu saya mengharapkan para pustakwan akan bekerja dengan penuh dedikasi.,” katanya dengan penuh harap.

Sayang, nasib pustakawan di mata awam tak lebih dari sekadar penata buku. Padahal, berkat pengetahuan seorang pustakawan, sebuah perpustakaan bisa menjaga koleksinya yang berharga. Menjaga agar ilmu pengetahuan yang tertulis itu tetap bisa dibaca oleh generasi-generasi berikutnya. “Kami bukan hanya sekadar penata buku. Tapi, kami adalah pustakawan. Sebuah profesi yang diakui, bahkan ada pendidikannya,” sambung Wahyudi, salah seorang pustakawan di Perpustakaan Unej

Referensi di kutip dari Kompasiana.com

28 Mar 2012

Konsep Perpustakaan Ideal Untuk Sekolah

Keberadaan perpustakaan di sekolah, merupakan salat satu pilar penting yang mendukung keberhasilan kegiatan belajar dan mengajar yang berlangsung di sekolah. Perpustakaan mempunyai peran yang jauh lebih penting sebagai tempat belajar dan mengelola pengetahuan karena tujuan dan fungsi perpustakaan secara umum adalah sebagai tempat untuk mengumpulkan, menata, mengolah, menyimpan, melestarikan, merawat dan menyediakan bahan pustaka dalam berbagai bentuk.

Perpustakaan sebagai tempat yang nyaman

Sebagai salah satu pilar pendukung kesuksesan belajar, perpustakaan seharusnya mampu menyediakan tempat yang nyaman, suasana yang menyenangkan bagi pengunjung, bahkan untuk selanjutnya, suasana yang menyenangkan ini dapat menarik minat orang-orang yang pada awalnya enggan datang ke perpustakaan menjadi suka datang ke perpustakaan. Jadi, sebagai langkah awal, perpustakaan harus mampu menyodorkan daya tarik bagi pengunjung terlebih dahulu.

Pertama, hal yang harus dibenahi adalah pencahayaan yang cukup untuk mendukung kegiatan membaca. Sumber cahaya dapat berasal dari cahaya matahari maupun lampu. Cahaya di dalam ruangan ini kemudian akan berbaur dengan warna dinding ruangan dan tata letak yang enak dan nyaman dipandang. Warna dinding yang teduh, nyaman, dan sejuk akan membuat setiap ingin datang lagi ke perpustakaan. Begitu pula tata letak meja, rak buku, arah pintu, tempat peminjaman buku yang mudah dijangkau akan membuat pengunjung semakin nyaman.

Kedua, faktor kebersihan lingkungan perpustakaan juga menjadi faktor yang cukup menentukan. Kebersihan lingkungan disini meliputi kebersihan outdoor (di luar ruangan) dan kebersihan indoor (di dalam ruangan). Kebersihan untuk lingkungan di luar perpustakaan dapat dilihat dari bagian gedung/bangunan luar dan jalan menuju ke perpustakaan (apakah mudah dijangkau atau sulit dijangkau, apakah letaknya strategis atau tersembunyi). Sebagai daya tarik, penempatan tanaman hias yang sesuai baik di luar maupun di dalam ruangan juga dapat mempengaruhi kenyamanan suasana di perpustakaan. Selain kebersihan di luar ruangan, kebersihan di dalam ruangan juga tidak kalah pentingnya, karena di ruangan inilah pengunjung akan bertahan lebih lama. Salah satu faktor penghambat kebersihan dalam sebuah ruangan adalah debu, baik debu-debu yang berada di lantai, meja, dan kursi, maupun debu-debu yang menempel di buku-buku koleksi. Bila faktor kebersihan yang disebabkan oleh debu ini kurang tertangani dengan baik akan menjadi kendala yang cukup menganggu, karena beberapa pengunjung yang alergi terhadap debu dapat menjadi kurang nyaman berada di perpustakaan ketika dia sedang mencari dan membolak-balik buku koleksi.

Pilar-pilar pokok sebuah perpustakaan ideal

Tiga pilar pokok perpustakaan adalah koleksi, sumber daya manusia (pustakawan) dan pelayanan yang memadai.

1. Koleksi Perpustakaan

Koleksi perpustakaan pada umumnya berupa buku, dari berbagai jenis, dengan beragam bentuk. Bahan pustaka baik yang cetak seperti buku, jurnal, hasil penelitian, skripsi, tesis, koran, majalah dan sebagainya, sedangkan non cetak seperti CD-ROM, jurnal elektronik, CD, disket, kaset.

Koleksi yang lengkap dengan jumlah yang memadai, didukung oleh luas ruangan yang cukup leluasa untuk menampung kapasitas koleksi tersebut akan menjadi sebuah nilai lebih bagi sebuah perpustakaan. Namun untuk menambah koleksi juga bukan merupakan hal yang mudah. Faktor utama yang menjadi kendala dalam penambahan koleksi ini adalah masalah keuangan. Namun, hal ini dapat disiasati dengan beberapa langkah seperti :

a. Membeli buku-buku murah pada saat diadakan pameran. Pemberian diskon sebagai harga promosi yang dilakukan oleh banyak pernerbit dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pengelola perpustakaan dalam rangka menambah koleksi perpustakaan yang baik dan berkualitas.

b. Menjadikan perpustakaan sebagai pusat deposit. Setiap kegiatan sekolah yang menghasilkan karya berupa buku, majalah, maupun karya-karya lain yang berupa tulisan disimpan di dalam perpustaan sebagai bahan koleksi di perpustakaan.

c. Menjalin kerjasama dengan pihak luar, seperti perpustakaan-perpustakaan lain yang sejenis maupun yang tidak sejenis, pertukaran koleksi dan peminjaman koleksi perpustakaan dalam jangka waktu berkala. Selain kerjasama dengan perpustakaan, kerjasama dengan pihak lain yang erat kaitannya dengan buku juga dapat dilakukan, misalnya seperti kerjasama dengan penerbit, terutama penerbit-penerbit lokal sehingga terjadi kerjasama yang bukan cuma menguntungkan pihak perpustakaan sekolah, namun juga menguntungkan pihak penerbit karena badan usahanya semakin dikenal luas.

d. Mencari donatur buku atau bahan pustaka, baik dari pihak pemerintah, swasta mapun donatur pribadi. Pencarian ini dapat dilakukan melalui tatap langsung (bertemu langsung) maupun melalui penerlusuran di internet, dan bergabung dengan komunitas penulis/milis perpustakaan untuk mendapatkan kesempatan koleksi gratis.

e. Koleksi tambahan juga dapat diperoleh melalui penyiangan koleksi perpustakaan lain yang sedang melakukan pembenahan, namun biasanya koleksi perpustakaan ini merupakan buku-buku lama yang kondisi fisik dan isinya sudah kurang mendukung sehingga untuk mendapatkan tambahan koleksi dari hasil penyiangan harus benar-benar dapat memilih dan menyeleksi bahan-bahan pustaka yang sesuai dan relevan dengan perpustakaan yang bersangkutan.

2. Pustakawan.

Untuk menciptakan sebuah perpustakaan yang ideal, langkah paling awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki sumber daya manusianya, dan sumber daya manusia yang utama dalam sebuah perpustakaan adalah pustakawan-pustakawan yang handal dan kompeten di bidangnya. Hal itu akan tercapai apabila mereka mendapat pendidikan dan keterampilan yang cukup menunjung pekerjaan mereka terkait dengan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat. Karena perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar harus bisa menyediakan fasilitas yang sesuai dengan perkembangan zaman yang saat ini didominasi oleh kecanggihan teknologi informasi.

Pustakawan senior merupakan modal utama perpustakaan dalam mengawal perubahan. Mereka harus diberi motivasi agar mau mengikuti perkembangan tehnologi informasi. Seandainya ada satu dua pustakawan senior yang “gaptek”, mereka harus tetap dilibatkan agar mereka dapat memberi contoh kepada pustakawan yunior. Kalau yang tua saja masih mau belajar, kenapa yang lebih muda tidak? Seharusnya yang lebih muda akan lebih giat belajar dibandingkan dengan yang lebih tua.

Sekalipun penambahan tenaga kerja baru sekarang sulit, namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya. Yang terpenting dalam “recruitment” adalah harus dilakukan sebaiknya mungkin. Kriteria pustakawan yang akan diterima harus jelas, hindarkan dari kolusi dan nepotisme serta seleksi harus dilakukan secara profesional dan transparan. Pustakawan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan kedepan adalah disamping pustakawan yang mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan, dia juga harus memiliki kemampuan dalam bidang teknologi informasi.

Struktur organisasi yang semula efektif untuk pencapaian tujuan, barangkali sekarang perlu adanya evaluasi. Apakah struktur yang ada masih efektif dan sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi? Perubahan harus dilakukan agar tujuan perpustakaan dapat dicapai dengan efektif dan juga sesuai dengan kemajuan.

Gaya kepemimpinan adalah unsur lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan perpustakaan dalam menghadapi tantangan dimasa mendatang. Gaya kepemimpinan tradisional akan menghadapi banyak kendala apabila diterapkan dimasa sekarang karena perubahan yang terjadi berlangsung begitu cepat, tuntutan pengguna perpustakaan begitu tinggi diluar kemampuan para pustakawan. Oleh karena itu gaya kepemimpinan tradisional harus kita tinggalkan diganti dengan gaya kepemimpinan yang lebih fleksibel dalam mengahadapi perubahan. Tugas utama pemimpim adalah dapat memotivasi staf agar bekerja lebih cerdas dan giat untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pengguna perpustakaan. Para pemimpin harus mampu mengidentifikasi kebutuhan pengguna sekaligus harus mampu juga menempatkan staf sesuai dengan kemampuannya.

3. Pelayanan

Pelayanan yang cepat, tepat, akurat, didukung dengan sikap yang baik, ramah, akan semakin melangkapi citra perpustakaan ideal. Pelayanan yang cepat dapat dicapai apabila dalam sistem kerjanya menggunakan metode yang tepat didukung dengan fasilitas teknologi informasi yang sampai saat ini sudah diakui dapat membantu banyak pekerjaan manusia menjadi lebih cepat dalam skala yang besar. Pelayanan dapat berlangsung dengan tepat apabila didukung oleh sumber daya manusia yang teliti dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya.

Penerapan teknologi informasi yang dapat digunakan perpustakaan adalah :

a. Otomasi Perpustakaan

Otomasi perpustakaan adalah suatu teknologi yang digunakan perpustakaan untuk pengolahan, pelayanan dan penelusuran kembali (OPAC). Program yang digunakan oleh perpustakaan adalah program Dynix

b. CD-ROM
CD-ROM adalah berisikan informasi tentang jurnal yang dikemas dalam bentuk CD dan dioperasikan dengan menggunakan komputer.

c. Internet
Pengunaan Internet di perpustakaan bertujuan untuk penyediaan penyediaan sarana dan prasarana dimana pengguna perpustakaan baik siswa, guru dan pengelola perpustakaan (pustakawan) dapat menelusuri informasi yang dibutuhkan melalui internet. Dalam hal ini, perpustakaan menyediakan sejumlah komputer sebagai terminal yang terhubung ke Internet. Apabila memungkinkan, penyediaan fasilitas internet ini juga bisa diperluas jangkauannya dengan adanya fasilitas hotspot di areal sekolah.

d. Digital Library (Perpustakaan Digital)

Digital library adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu tulisan, gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan menyebarluaskan dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Koleksi yang dimasukkan dalam digital library untuk sementara ini adalah skripsi, tesis, makalah.

e. Jurnal Elektronik

Jurnal elektronik adalah jurnal yang dikemas dalam bentuk file elektronik dalam penelusuran informasi menggunakan jaringan internet.

Kelebihan yang diperoleh dari penerapan teknologi informasi di perpustakaan adalah : layanan lebih cepat, mudah, dan praktis; penelusuran lebih cepat dan mudah; menghemat waktu; menghemat tenaga; membutuhkan sedikit SDM (pustakawan).

Selain kelebihan yang dimiliki, penerapan teknologi informasi di perpustakaan ini juga memiliki sisi kelemahan antara lain : tergantungan pada aliran listrik atau PLN; bila komputer rusak layanan terganggu; minimnya teknisi komputer.

Beberapa solusi pemecahan dalam mengatasi kelemahan tersebut antara lain: perlu adanya jenset untuk mengantisipasi terjadinya mati listrik; merengkrut tenaga teknisi komputer; mengirim pustakawan mengikuti kursus teknisi komputer; pengadaaan komputer yang baru.

Inovasi perpustakaan ideal.

Konsep ideal disini berlaku lokal, yaitu meliputi ruang lingkup keberadaan perpustakaan tersebut dan fungsi utamanya di lingkungan tersebut. Sebuah perpustakaan sekolah yang ideal, dalam ruang lingkup sekolah yang kecil, akan mencapai status ideal apabila perpustakaan itu mampu mendukung secara penuh segala bentuk kegiatan proses belajar yang berlangsung di sekolah. Apabila perpustakaan sekolah hanya buka selama jam pelajaran saja (padalah sebagian besar jam pelajaran di sekolah tidak berlangsung di perpustakaan, tetapi berlangsung di dalam kelas atau ruangan lain sesuai dengan mata pelajaran yang diberikan), maka konsep perpustakaan ideal bagi sekolah belum akan tercapai. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain :

Pertama, perpustakaan sekolah hanya dapat dimanfaatkan oleh siswa maupun guru pada saat jam istirahat (siswa sedang di kelas dan guru sedang tidak mengajar), padahal waktu istirahat pada umumnya digunakan oleh siswa untuk pergi ke kantin atau untuk keperluan lain. Belum lagi waktu istirahat yang biasanya sangat terbatas itu umumnya belum mencukupi bagi pengguna perpustakaan untuk bisa memanfaatkan perpustakaan secara optimal.

Kedua, perlu adanya waktu tambahan untuk kunjungan ke perpustakaan diluar waktu pelajaran dan waktu istirahat. Hal ini dapat dilakukan untuk semakin meningkatkan nilai fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar yang optimal bagi segenap komponen sekolah. Tambahan jam kunjungan ke perpustakaan ini dapat dilakukan pada siang sampai sore hari setelah jam pelajaran utama selesai. Dengan demikian, siswa yang memiliki minat ke perpustakaan cukup besar dapat memanfaatkan momen ini untuk semakin menambah wawasan pengetahuannya. Tentunya, dalam hal ini pihak sekolah harus mampu menyeddiakan tenaga perpustakaan yang dapat memberikan pelayanan sampai sore hari.

Ketercapaian pilar utama sebuah perpustakaan akan menghasilkan sebuah konsep perpustakaan yang ideal. Namun seiring dengan perkembangan zaman, peran perpustakaan bisa lebih dari sekedar tempat singgahnya bahan pustaka dan sumber belajar. Dalam jangka waktu ke depan, perpustakaan juga dapat difungsikan sebagai tempat untuk mengembangkan diri, sebagai contoh dengan diadakannya berbagai macam kompetisi yang erat kaitannya dengan buku, menulis dan membaca seperti lomba menulis artikel, cerpen, puisi, lomba membaca puisi, membaca cerita, dll.

Di pihak lain, perlu adanya perhatian terhadap komponen-komponen perpustakaan baik itu pengunjung maupun karyawan perpustakaan. Bentuk perhatian ini dapat berupa pemberian penghargaan kepada pengunjung/anggota perpustakaan yang paling rajin dan juga pustakawan yang memiliki kinerja paling baik. Bentuk perhatian ini diharapkan akan memberikan angin segar dan semangat baru bagi pecinta perpustakaan.

Penutup

Sesuai dengan fungsi perpustakaan sebagai penyedia dan juga sebagai sumber belajar, sebuah perpustakaan yang dikelola dengan manajemen yang baik, berada di lingkungan yang mendukung akan mampu menciptakan suasana dan kondisi yang nyaman untuk belajar. Atau dengan kata lain, sebuah perpustakaan yang ideal akan mampu menumbuhkan minat baca bagi para pengunjung atau orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya.

Untuk tercapainya tujuan tersebut, diperlukan banyak pihak yang saling mendukung dan saling melengkapi sehingga pilar-pilar pokok sebuah perpustakaan dapat tercapai dan berjalan dengan baik.

Charles W. Elliot seorang tokoh pendidikan AS yang hidup tahun 1834-1926 mengatakan: “Mau tahu siapa teman paling setia, tidak cerewet, gampang ditemui, sekaligus guru nan bijak dan sabar? Dialah buku.”

DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2008. Tips Agar Buku Berumur Panjang. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=20

Anonym. 2008. Membangun Koleksi Digital. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=35

Bambang, 2009. Peran Perpustakaan dalam Membina Minat Baca. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=85

Daryono, 2009. Pengembangan Minat Baca Masyarakat. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=171

Hardiningtyas, T. 2008. Meningkatkan Profesionalisme Pustakawan dalam Mendukung Tugas Pokok Fungsi Instansi : antara harapan dan kenyataan. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=77

Hardiningtyas, T. 2009. Koleksi Perpustakaan, Untuk Siapa? http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=193

Harmawan, 2008. Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Peringkat Webometric. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=72

Harmawan. 2008. Peran Pustakawan Dalam Era Digitalisasi Informasi. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=24

Hermanto, B. 2008. Penerapan Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Mutu Layanan Perpustakaan Universitas Sebelas Maret. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=13

Mafar, F. 2008. Perpustakaanmu, Perpustakaanku, Perpustakaan Kita Semua. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=67

Pardede, J. P. 2008. Membaca Dunia Lewat Menumbuhkan Minat Baca, Harian Analisa, http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24395:qmembaca-duniaq-lewat-menumbuhkan-minat-baca&catid=121:artikel&Itemid=159

Santoso, B. 2009. Pemasaran dan Promosi Perpustakaan. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=147

UPT Perpustakaan ITB, 2004. Kiat Mengembangkan Perpustakaan, TRIK DAN TIP : Konsep Praktis Pengembangan Perpustakaan. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=79

Wahyudiati. 2008. Optimalisasi Perpustakaan Sekolah Untuk Menumbuhkan Minat Baca, http://blog.uny.ac.id/wahyudiati/2008/12/02/optimalisasi-perpustakaan-sekolah-untuk-menumbuhkan-minat-baca/

Widuri, N. R. 2008. Memperbanyak Bahan Pustaka dengan Dana Terbatas. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=7

Wijayanti, P.H. 2008. Indonesia, Buku, dan Budaya Membaca. http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=26

Penulis: Fitri Nurhati, S.Si

Depok, Sleman, Yogyakarta

Sumber :

25 Mar 2012

Perpustakaan Tidak Butuh Pustakawan Loyo

Pustakawan adalah suatu profesi yang memiliki standar-standar keilmuan dan teknis yang baku. Meskipun tidak populer Ilmu Informasi dan Perpustakaan merupakan salah satu bidang keilmuan yang diajarkan di banyak perguruan tinggi di seluruh dunia. Yang ingin kami tegaskan di sini adalah, Pustakawan adalah profesi. Artinya, pustakawan memiliki kualifikasi profesional dan kode etik sebagai tanggungjawab moral. Profesionalisme yang berkinerja membangun minat baca masyarakat, serta tanggung jawab moral untuk mencerdaskan bangsa. Perlu diingat proses pendidikan tidak harus terjadi dalam lembaga yang disebut dengan sekolah, perpustakaan harus bisa mengambil peran itu.

Perpustakaan pernah identik dengan ruang yang sepi, malas atau bahkan pulas. Fenomena ini dirasakan di banyak perpustakaan konvensional yang tidak dikembangkan dengan baik. Pertanyaannya adalah, siapa yang harus bertanggungjawab atas kemunduran perpustakaan di Indonesia?

Kita harus mencoba untuk berhenti mengeluh, mengumpat dan memaki, kemudian memilih diam dan mengambil satu langkah kecil menuju perubahan. Tidak perlu berdebat kusir mencari kambing hitam atas setiap kegagalan perpustakaan utuk survive mempertahankan eksistensinya selaras di tengah-tengah masyarakat. Perpustakaan seharusnya bisa tetap berkarya menebarkan konsep kemandirian dalam pendidikan (self learning) dan belajar sepanjang hayat (long life learning) sebagai misi perpustakaan. Konsep-konsep tersebut sangat relevan dengan era sekarang, yang menuntut kemandirian siswa/ siswi dan speed yang sangat tinggi. Perpustakaan seharusnya juga bisa menjadi salah satu ruang publik yang paling demokratis (laboratorium demokrasi), karena setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama di perpustakaan.

Kompetisi yang sangat ketat saat ini tidak akan menyisakan tempat bagi perpustakaan yang loyo, yang ogah-ogahan meniti jalan perubahan dan manja. Hanya perpustakaan yang berkinerjalah yang akan tetap eksis lolos dari seleksi zaman, dan hanya seorang profesional yang berkinerja dan berkawan dengan perubahanlah yang mampu menggerakkan perpustakaan yang terpercaya. Ada baiknya, kita bercermin untuk melihat, merenungkan dan memastikan siapa diri kita, karya apakah yang sudah kita sumbangkan untuk perpustakaan kita?

Barangkali kita perlu mengambil sudutpandang yang sedikit lebih bijaksana demi pendidikan nasional. Saya ingat guru saya, seorang pustakawan berkata “Jangan tanyakan apa yang diberikan perpustakaan kepadamu, tapi bertanyalah apa yang dapat kamu berikan kepada perpustakaanmu.” Berpulang kepada para pustakawan sendiri, apa yang sudah diberikan oleh Pustakawan bagi perpustakaannya sendiri?

Mari, kita bercermin dan introspeksi.


19 Mar 2012

Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini


Sedih rasanya ketika melihat adik saya lebih sering menghabiskan waktu di depan komputer untuk main game daripada browsing artikel-artikel di internet. Pernah suatu ketika karena adik saya tertarik dengan berita-berita unik di internet tentang UFO, Atlantis, dll saya ajak dia ke warnet untuk membaca artikel-artikel dengan tema-tema tersebut. Tapi karena tulisan-tulisan yang panjang di situs atau blog yang kami kunjungi, dia jadi malas membacanya.

Biasanya ketika seseorang membaca tujuannya adalah memperoleh informasi, hiburan, referensi, atau bisa juga karena kepentingan lain. Pertama kali saya mulai membaca dengan serius adalah ketika seorang guru menyarankan untuk membaca buku sebanyak mungkin ketika liburan puasa satu bulan penuh. Ketika itu saya melahap 5 novel sekaligus yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

Beberapa guru juga pernah membuat kompetisi yang hanya terbatas untuk tingkat sekolah saja untuk membuat sinopsis buku dan mencritakannya kembali. Tetapi dengan kompetisi kecil itu, minat baca saya dan teman-teman semakin bertambah besar. Hasilnya saya jadi semakin cinta membaca dan berhasil memperoleh beberapa piagam penghargaan saat mengikuti kompetisi-kompetisi menulis tingkat kabupaten saat SMP. Teman-teman saya pun mendapatkan prestasi serupa. Namun sepertinya kompetisi kecil ini tidak ada lagi. Barangkali dengan kurikulum baru bagi siswa SD yang saya anggap lebih berat dari kuikulum-kurikulum sebelumnya, mereka lebih banyak disibukkan dengan pelajaran-pelajaran yang begitu padat.
Tetapi saya berharap setiap guru-guru sekolah dasar di negeri ini mendorong anak-anak SD untuk mau membaca. Dengan arahan langsung ataupun dengan kompetisi-kompetisi kecil.


Apapun itu, budaya membaca harus dibiasakan sejak dini. Ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, maka tulisan sepanjang apapun akan terasa enak dibaca asalkan kita tertarik dengan topik tulisan tersebut.
Selain menambah pengetahuan, membaca juga menambah rasa kebahasaan seseorang. Orang yang biasa membaca lebih tahu apa yang harus ia katakan dari pada orang yang tidak biasa membaca.


Orang yang biasa membaca akan mudah mencerna kalimat-kalimat yang ia peroleh dan mengutarakannya kembali. Jika kita membiasakan membaca sejak dini, maka manfaat-manfaat tersebut akan lebih besar terasa dalam diri kita.
Membaca itu seperti menanam pohon jati. Menanam sekarang, tapi baru akan menebang kayunya 15, 20, atau 30 tahun mendatang. Mungkin tidak semua yang pernah kita baca akan kita ingat kata demi kata. Tetapi setidaknya dengan membaca kita dapat meningkatkan kualitas diri kita. Terimakasi.

Penulis : Ismail Hidayat
BLOG : http://www.ismailhidayat.com/

14 Mar 2012

DDC 23 Sudah di Terbitkan

Sudah lama informasi tentang terbitnya ddc 23 yang terbaru di internet, kami sangat penasaran sekali apakah ada perbedaan dengan ddc 22 atau cuman ada penambahan sedikit kata baku di dalam ddc 23 tersebut. Kami mencoba menulusuri Infomasi ini di sebuah situs pencarian yaitu Google. Ketemu juga ternyata cover pada ddc 23 ini dibuat tebal (hardcover) , dari informasi yang kami dapat ddc 23 ini ternyata sudah terbit dari bulan Juli 2011 di Amerika , ternyata ketinggalan infomasi ya..?? hehehe.

Lantas apa sich perbedaan di dalam ddc 23 ini, simak rinciannya dibawah ini :

Pada subjek-subjek ini, DDC memberikan perhatian khusus pada perkembangannya:

  • Penmabahan kelas untuk Gereja ortodox, Islam dan 200 agama lainnya
  • Nomor-nomor kelas dalam 004-006 Ilmu komputer dan tempat lain untuk mencerminkan perubahan dalam teknologi
  • Perubahan signifika pada nomor kelas 370 Pendidikan. Dikembangkan mulai dari jenjang pendidikan, jenis sekolah, masalah kebijakan dan mata pelajaran tertentu dalam pendidikan dasar.
  • Nomor baru yang digunakan untuk pengembangan sinematografi dan videografi di nomor kelas 777
  • Perkembangan untuk hukum perdata di kelas 340
  • Periode sejarah pada Tabel 2 di 930-990, meliputi ancient world,Italia, Swiss, Swedia, Finlandia, Turki, Indonesia, Vietnam dan Kanada
  • Perkembangan pada nomor kelas makanan dan pakaian.
  • Dekorasi dan seni
  • Olahrga dan atletik
  • dll.
Perubahan tersebut tidak begitu pengaruh, cuman ukuran beda tipis jika di bandingakan dengan ddc 22, kemungkinan besar ada sejumlah kode kata yang dihapus karena ada penggadaan kode.

Ini dia gambar dari ddc 23, bagaimana pendapat anda sendiri? bagus kan ? jelas bagus harganya juga bagus, harganya hampir sama dengan harga sepeda motor , hihihihi :)
harganya di bandrol 179.19 US$.


Di Situs resmi OCLC terpapar jelas rincian harga ddc 23 , bisa di lihat gambar dibawah ini.


Ada dua warna pilihan warna hijau dan warna orange, pilih yang mana?
apakah anda siap untuk membeli...??
Kalo belom siap.......Nabunglah mulai dari sekarang hehehe :)
Ddc 23 terbaru ini sangat cocok untuk Perpustakaan Universitas maupun Perpustakaan Sekolah.

Sedikit informasi dari kami, semoga bermanfaat dan menambah wawasan untuk anda.


Posting Original by Rendra

17 Feb 2012

Pengembangan Perpustakaan Dengan Media IT


Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi banyak membantu dalam pengembangan fasilitas perpustakaan. Meskipun hal ini masih perlu waktu untuk merubah image para pustakawan atau petugas perpustakaan yang tadinya menggunakan sistem manual berubah menjadi sistem yang terotomasi. Dalam era global seperti sekarang ini muncul berbagai perpustakaan yang menerapkan Teknologi Informasi (TI). Istilah perpustakaan maya, perpustakaan elektronik, atau perpustakaan digital selalu menjadi sajian sehari-hari perpustakaan. Bagi sebagian besar perpustakaan di Indonesia, aplikasi TI seperti di negara-negara yang sudah maju merupakan suatu tantangan harus dilaksanakan untuk mendukung tuntutan sebagian pengguna jasa perpustakaan yang memerlukan informasi agar dapat menemukan informasi yang diperlukan dengan mudah dan cepat.

Dengan demikian muncul pertanyaan Bagaimana
perpustakaan ideal yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna? Perpustakaan ideal yang mampu memenuhi keinginan pengguna adalah perpustakaan yang menyediakan informasi lengkap, dapat diakses kapan saja, dimana saja dan dipandu oleh pustakawan yang profesional.

Hal ini sebagai akibat dari dampak aplikasi TI dalam kehidupan masyarakat secara luas. Secara teori perpustakaan mutlak harus memakai TI agar tidak ditinggalkan sebagian pengguna jasa
tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar perpustakaan di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan TI, sehingga harus ada strategi khusus untuk melaksanakannya.

Pemanfaatan TI akhirnya akan dapat :

1. Meningkatkan kebutuhan pengguna perpustakaan.

2. Meningkatkan kepuasan pengguna perpustakaan.

3. Meningkatkan kepercayaan stake holder terhadap perpustakaan.

4. Meningkatkan kemitraan antara perpustakaan dengan stake holder.

Manfaat digitalisasi koleksi perpustakaaan :

1. Bahan-bahan pustaka seperti buku, skripsi, tesis, disertasi, jurnal ataupun artikel yang ada sangat dimungkinkan untuk tersedia dalam format digital (bukan kertas).

2. Dapat menghemat tempat penyimpanan

3. Bahan pustaka lebih aman dari kerusakan sehingga lebih tahan lama.

4. Web Site perpustakaan dapat diakses oleh banyak orang dan dari manapun.

Pengembangan perpustakaan digital menjadi kegiatan baru dalam membimbing pemakai menggunakan perangkat TI secara optimal untuk menemukan informasi yang dicari. Perkembangan TI ternyata menjadi beban bagi kebanyakan perpustakaan. Banyak perpustakaan yang hanya diberi kesempatan untuk melihat semua perkembangan yang canggih namun belum dapat menerapkannya. Keadaan ini memotivasi pengelola perpustakaan untuk dapat “mendongkrak” posisi perpustakaan pada tingkat yang lebih tinggi.

Untuk itu diperlukan suatu cara yang efektif dalam mengembangkan perpustakaan digital antara lain dengan mengevaluasi tentang pengguna perpustakaan, koleksi dan layanan yang sudah ada, SDM yang dimiliki serta sistem yang dimiliki. Kegiatan perpustakaan dibagi menjadi 5 fungsi yaitu : manajemen koleksi, operasional perpustakaan, layanan perpustakaan, dukungan SDM, dan dukungan TI.

Manajemen Koleksi

1. Melaksanakan Stock Opname koleksi untuk memastikan keberadaan koleksi agar mudah dan cepat ditemukan, dapat diakses serta dipesan melalui web site.

2. Mewujudkan integrated sistem informasi pengadaan koleksi antar perpustakaan agar tidak terjadi duplikasi koleksi.

3. Pengembangan daftar koleksi lokal yang meliputi karya penelitian, skripsi, tesis, artikel dan buku terbitan perguruan tinggi yang bersangkutan.

4. Sosialisasi pemakaian layanan elektronik.

TautanOperasional Koleksi

1. Memperbaiki master database berdasar pada stock opname.

2. Pengecekan nomor inventaris dan nomor klasifikasi untuk perbaikan database buku.

3. Penataan koleksi nonbuku, misalnya CD ROM dan kaset.

4. Integrated pengolahan antar perpustakaan yang ada.

Layanan Perpustakaan

1. Integrasi sistem layanan dengan penyesuaian tata tertib yang berlaku pada masing-masing perpustakaan ada.

2. Pengembangan layanan referensi meliputi penelusuran, konsultasi, penataan knowledge.

3. Bimbingan pengguna perpustakaan agar familier meTautannggunakan layanan yang terotomasi dan layanan berbasis web.

4. Pengembangan layanan digital dan multimedia.

5. Pengembangan terbitan pustaka (InfoPustaka Online), kliping online dan paket informasi yang lain.

6. Mengupdate informasi yang ada di Web dan perpustakaan sebagai moderator ICS (Information Center Service)

Pengembangan SDM

1. Pengembangan SDM terhadap layanan yang berbasis TI dan menguasai tentang jaringan (networking).

2. Pengembangan SDM sebagai subject specialist dan database developer.

Pengembangan TI

Bekerjasama dengan Pusat Komputer dan Operasional TI untuk terus mengembangkan sistem informasi layanan, penataan sistem informasi dan knowledge digital.

Penerapan teknologi informasi yang dapat digunakan perpustakaan adalah

  • Ø Otomasi Perpustakaan
    Otomasi perpustakaan adalah suatu teknologi yang digunakan perpustakaan untuk pengolahan, pelayanan dan penelusuran kembali (OPAC). Program yang digunakan oleh perpustakaan adalah program Dynix
  • Ø CD-ROM
    CD-ROM adalah berisikan informasi tentang jurnal yang dikemas dalam bentuk CD dan dioperasikan dengan menggunakan komputer
  • Ø Internet
    Pengunaan Internet di perpustakaan bertujuan untuk penyediaan penyediaan sarana dan prasarana dimana pengguna perpustakaan baik para pengguna jasa perpustakaan.
  • Ø Digital Library

Digital library adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu tulisan, gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan menyebarluaskan dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Koleksi yang dimasukkan dalam digital library untuk sementara ini adalah skripsi, tesis, makalah.

  • Ø Jurnal Elektronik

Jurnal elektronik adalah jurnal yang dikemas dalam bentuk file elektronik dalam penelusuran informasi menggunakan jaringan internet.

Kelemahan yang dihadapi dalam penerapan teknologi informasi di perpustakaan adalah

  • Tergantungan pada aliran listrik atau PLN
  • Bila komputer rusak layanan terganggu
  • Minimnya teknisi komputer

Solusi pemecahan dalam mengatasi kelemahan tersebut adalah

  • Perlu adanya jenset untuk mengantisipasi terjadinya mati listrik
  • Merekrut tenaga teknisi komputer
  • Mengirim pustakawan mengikuti kursus teknisi komputer
  • Pengadaaan komputer yang baru

KESIMPULAN

  1. Digitalisasi koleksi perpustakaan cara efektif supaya masyarakat kembali mencintai perpustakaan.
  2. Perlu pustakawan yang tekun dan handal dalam mengelola informasi penting dalam internet, pengembangan database, pembuatan paket informasi dan pengelolaan sumber daya informasi lain.

SARAN

  1. Pelatihan pustakawan agar menjadi handal dalam menghadapi tuntutan digitalisasi perpustakaan.
  2. Adanya sosialisasi tentang digitalisasi perpustakaan pada masyarakat luas.
  3. Perlu adanya kerjasama antar semua pihak terkait dalam pengelolaan digitalisasi perpustakaan.


Sumber : di http://www.pemustaka.com/sekarang-zamannya-era-digitalisasi-termasuk-perpustakaan.html

15 Feb 2012

Prospek Lulusan Ilmu Perpustakaan

Apa itu Ilmu Perpustakaan dan Informasi?
Saat mendengar ilmu perpustakaan pasti dalam pikiran kita terbayang sebuah ruangan berisi penuh buku dan sepi. Tapi bayangan itu pasti akan berubah ketika kita tahu apa saja yang kita pelajari disini.
Materi yang dipelajari di Ilmu Perpustakaan adalah ilmu interdisipliner dari ilmu manajemen, teknologi informasi, komunikasi, metadata, pendidikan dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan penataan koleksi, peng-organisasian, pelestarian, dan penyebarluasan sumber informasi.
Jadi mata kuliah yang kita pelajari nggak monoton dan selalu up-to-date dengan perkembangan zaman sesuai dengan teknologi informasi terkini.
Prospek Lulusan
Jadi lulusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi nggak usah takut nganggur. Jangankan nganggur, belum lulus saja sudah banyak tawaran untuk kerja disana-sini. Makanya nggak heran ada beberapa mahasiswa ilmu perpustakaan yang keasyikan kerja sampe lupa skripsi.
Banyak sekali bidang-bidang keahlian yang nantinya akan kita kuasai ketika lulus dari jurusan ini. Maka dari itu prospek kerja lulusan Jurusan ini sangat beragam dan banyak dibutuhkan di instansi pemerintah, swasta tingkat nasional dan internasional, dan jika kemampuan bahasa asing cukup baik, bisa mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan asing dalam negeri maupun luar negeri.
Jadi PNS-pun juga oke banget, karena lulusan jurusan ilmu perpustakaan adalah salah satu lulusan yang paling dimanja di instansi pemerintah, selain mendapat kemungkinan untuk disekolahkan kembali (S2 di dalam atau luar negeri), pustakawan mendapat intensif tunjangan kelangkaan profesi loh.
Keuntungan Jadi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Banyak banget keuntungannya terutama buat mahasiswa yang ingin kerja part-time atau magang, banyak sekali permintaan magang atau part time di perpustakaan dan unit kearsipan di instansi pemerintah atau perusahaan. Jadi selain kita mencari ilmu kita bisa sekalian nyambi mencari uang.
Untuk yang doyan organisasi. Kita juga punya himpunan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi yang bernama IMASIP UI yang merupakan singkatan dari Ikatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Belum lagi kegiatan-kegiatan badan otonom dan badan semi otonom yang seperti ekstrakulikuler di sekolah yang berjumlah belasan di Fakultas Ilmu Budaya. Mulai dari kegiatan olahraga, bermusik, teater, seni daerah seperti alat musik tradisional, batik dll, juga fotografi dan kegiatan kegamaan menurut kepercayaan masing-masing. Juga buat kamu yang ingin jadi mahasiswa eksekutif dan legistlatif, di FIB UI ada BEM dan DPM FIB UI. Itu baru di tingkat FIB saja, belum lagi organisasi tingkat UI yang segedubrak bikin kamu betah jadi mahasiswa UI.
Nah, jadi buat kamu yang masih bingung buat milih jurusan? Jurusan ini sangat direkomendasikan banget buat kamu yang ingin pilih jurusan buat kuliah nanti.

Sumber : http://ilmuperpus.wordpress.com

MOTIVASI Mahasiswa Mengikuti Kuliah Jurusan Perpustakaan Universitas Terbuka

MOTIVASI MAHASISWA MENGIKUTI KULIAH JURUSAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS TERBUKA

Oleh: Mochammad Asrukin

Abstrak: Motivasi merupakan tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. Penelitian ini dilakukan di Pacitan dengan mengambil objek mahasiswa program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan dengan populasi sebesar 184 orang dan sampel sebesar 40 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,5% memiliki motivasi yang tinggi, sebanyak 22,5% motivasinya sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah. Faktor minat belajar di bidang perpustakaan dan informasi menempati peringkat tertinggi disusul dengan faktor harapan untuk bekerja di bidang pendidikan dan perpustakaan serta informasi, kemudian disusul dengan faktor prospek pekerjaan menempati urutan ketiga. Sedangkan faktor dorongan dari pihak luar menempati posisi terendah dalam mempengaruhi seseorang.

Kata Kunci: Motivasi, Jurusan Ilmu Perpustakaan UT

Pendahuluan

Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, maka pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional Indonesia serta tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Karena itu semua warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana ditegaskan dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 UUD 1945 “tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran, dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.

Sistem pengajaran nasional ini telah diselenggrakan oleh pemerintah mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini sampai dengan tingkat pendidikan tinggi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 tahun 1999 Bab II Pasal 3 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan di perguruan tinggi adalah: a) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian; b) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional; c) mendukung pembangunan masyarakat madani yang demokratis dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri; dan d) mencapai keunggulan kompetitif melalui penerapan prinsip pengelolaan sumber daya sesuai dengan asas pengelolaan yang professional.

Salah satu bentuk pendidikan tinggi negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia adalah Universitas Terbuka. Saat ini Universitas Terbuka telah berusaha untuk melayani kebutuhan pendidikan tinggi warga Negara Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah nusantara dari Sabang sampai Merauke bahkan yang tinggal di luar negeri sekalipun. Untuk itu dibentuklah Unit Pelaksana Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di seluruh propinsi Indonesia, di antaranya adalah UPBJJ – UT Malang.

Pada tahun 2010 ini UPBJJ – UT Malang telah membuka program studi D2 Perpustakaan. Program ini mendapat respon yang positif dari masyarakat Jawa Timur terutama dari daerah Kabupaten Pacitan. UPBJJ – UT Malang untuk Pokjar/Kabupaten Pacitan pada periode 2010/1 ini memiliki 184 mahasiswa yang terbagi menjadi 5 kelas tutorial. Tutorial dilaksanakan di SD Negeri Kebonsari Pacitan sebanyak 4 kelas, dan di UPT Pendidikan Arjosari Pacitan satu kelas. Untuk itu perlu diketahui apa yang menjadi motivasi masyarakat khususnya mahasiswa mengikuti kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan Universitas Terbuka

Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan atau alasan. Motif merupakan tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia bertindak atau melakukan sesuatu.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:80) “Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar”. Sejalan dengan itu, Ratumanan (2002:72) mengatakan bahwa; “Motivasi adalah sebagai dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku”. Sedangkan motivasi belajar adalah “Keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Tadjab, 1994:102)”.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa motivasi memiliki 3 komponen, yaitu: a) kebutuhan, kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang dimiliki dari apa yang ia harapkan; b) dorongan, merupakan kegiatan mental untuk melakukan suatu.; dan c) tujuan, tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh individu. Seseorang yang mempunyai tujuan tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan, maka ia akan melakukan pekerjaan tersebut dengan penuh semangat.

Pengaruh motivasi terhadap seseorang tergantung seberapa besar motivasi itu mampu membangkitkan motivasi seseorang untuk bertingkat laku. Dengan motivasi yang besar, maka seseorang akan melakukan sesuatu pekerjaan dengan lebih memusatkan pada tujuan dan akan lebih intensif pada proses pengerjaannya. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegaitan belajar dan memberikan arah pada kegiatna belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.

Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik (Sardiman, 2005:189). Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sejalan dengan itu pula, Suryabrata (1994:72) juga membagi motivasi menjadi 2 yaitu: a) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari luar; dan b) motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi meskipun tidak mendapat rangsangan dari luar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar pada dasarnya ada dua yaitu: motivasi yang datang sendiri dan motivasi yang ada karena adanya rangsangan dari luar. Kedua bentuk motivasi belajar ini sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Setiap motivasi itu bertalian erat hubungan dengan tujuan atau suatu cita-cita, maka makin tinggi harga suatu tujuan itu, maka makin kuat motivasi seseorang untuk mencapai tujuan. Purwanto (1996:70) mengatakan bahwa fungsi motivasi ada 3 yaitu: a) motivasi itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak, motivasi ini berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan energi kepada seseorang untuk melakukan sesuatu; b) motivasi itu menentukan arah perbuatan ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita, dalam hal ini motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu, sehingga makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh; dan c) motivasi itu menyeleksi perbuatan kita, artinya menentukan perbuatan mana yang dilakuan dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan mengenyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.

Dalam kajian teori motivasi ada yang dikenal dengan teori kebutuhan. Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow yang mengemukakan bahwa orang termotivasi untuk melakukan sesuatu karena didasari adanya kebutuhan dalam dirinya, yang terbagi menjadi 5 (lima) kebutuhan yaitu: (1) kebutuhan fisiologis yang merupakan kebutuhan manusia untuk bertahan hidup atau juga disebut kebutuhan pokok yang terdiri dari kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal; (2) kebutuhan rasa aman yang meliputi keamanan akan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja dan jaminan hari tua; (3) kebutuhan sosial yang berupa kebutuhan-kebutuhan seseorang untuk diterima dalam kelompok tertentu yang menyenangkan bagi dirinya; (4) kebutuhan penghargaan seperti halnya kabutuhan bagi seorang pegawai yang bekerja dengan baik tentu ingin mendapat penghargaan dan pengakuan dari atasan ataupun pujian dari teman kerjanya atas prestasinya dan; (5) kebutuhan aktualisasi diri yang berupa kebutuhan yang muncul dari seseorang dalam proses pengembangan potensi dan kemampuannya untuk menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya (Hasibuan, 2003:104-107).

Siagian (2002:107) mengungkapkan teori motivasi yang dikemukakan oleh Frederick Herzberg yang dikenal dengan Hygiene theory. Menurut teori ini faktor-faktor yang mendorong aspek motivasi adalah keberhasilan, pengakuan sifat pekerjaan yang menjadi tanggung jawab seseorang, kesempatan untuk meraih kemajuan dan pertumbuhan. Sedangkan faktor higiene yang menonjol ialah kebijaksanaan perusahaan, supervisi, kondisi pekerjaan, upah dan gaji, hubungan dengan rekan sekerja, kehidupan pribadi, hubungan dengan para bawahan, status dan keamanan. Dalam teori ini ada yang disebut dengan istilah faktor pendorong (motivation faktor). Faktor ini dapat menyebabkan peningkatan kepuasan kerja, namun pengurangan terhadap faktor ini tidak secara otomatis mengakibatkan munculnya ketidakpuasan kerja. Di lain pihak adanya peningkatan faktor yang menimbulkan ketidak puasan cenderung untuk mengurangi ketidakpuasan kerja. Akan tetapi walaupun ada penambahan dalam faktor-faktor ini, ternyata tidak secara otomatis dapat mendorong munculnya kepuasan kerja. Jadi faktor pendorong merupakan faktor yang meningkatkan kerja sedangkan faktor penyehat sebagai pemelihara kerja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, manusia membutuhkan kebutuhan kesehatan dan selanjutnya setiap individu memiliki peluang untuk mengembangkan dirinya.

Sejalan dengan dua teori ketuhan terdahulu, Alferder mengelompokkan kebutuhan menjadi tiga kelompok, yaitu : (1) kebutuhan keberadaan yang berkaitan dengan kebutuhan untuk bisa tetap bertahan hidup seperti halnya kebutuhan untuk tetap dapat makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan sebagainya seperti halnya kebutuhan fisiologisnya Maslow; (2) kebutuhan berhubungan yang merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan dalam berinteraksi dalam lingkungan hidup dan juga lingkungan kerja dan ; (3) kebutuhan berkembang yang merupakan kebutuhan yang berhubungan dengan keinginan intrinsik dari seseorang untuk mengembangkan dirinya. (Thoha, 2004:233)

Pada sisi lain Mc Clelland (Mangkunegara, 2004:97) menyebutkan juga adanya tiga kebutuhan manusia, yaitu : (1) Need for achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah; (2) Need for affiliation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi atau bergabung dan bercampur dengan orang lain yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa merugikan orang lain dan ; (3) Need for power, yaitu kebutuhan untuk mimiliki kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencari otoritas dan memiliki pengaruh terhadap orang lain.

Dari teori-teori motivasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebutuhan merupakan dasar yang sangat fundamental bagi perilaku seseorang. Karena itu jika kebutuhan seseorang tidak terpenuhi cenderung untuk malas bekerja, sebaliknya jika kebutuhannya terpenuhi maka seseorang akan memiliki gairah kerja bahkan dengan semangat yang lebih tinggi.

Univesitas Terbuka

Universitas Terbuka bertekad untuk menjadi salah satu institusi Pendidikan Jarak Jauh (PTJJ) unggulan diantara institusi PTJJ di Asia tahun 2010 dan di dunia tahun 2020. Untuk mendukung visi tersebut, Universitas Terbuka memiliki misi sebagai berikut:

  1. Memperluas kesempatan belajar pada jenjang pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang berkualitas.
  2. Menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan/atau profesional yang mampu bersaing secara global.
  3. Meningkatkan partisipasi masyarakat pengguna dalam pendidikan berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society).
  4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengembangan sistem PJJ, khususnya PTJJ.
  5. Menyebarluaskan dan berbagai informasi tentang PJJ, khususnya PTJJ secara inovatif dan berkesinambungan.
  6. Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa melalui pelayanan pendidikan tinggi secara luas dan merata.
  7. Meningkatkan pemahaman lintas budaya dan jaringan kerjasama melalui kemitraan pendidikan pada tingkat lokal, nasional, dan global.
  8. Menghasilkan produk-produk akademik dalam bidang PJJ, khususnya PTJJ, dan bidang keilmuan lainnya.

UT adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ke-45 di Indonesia yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh. Sistem belajar ini terbukti efektif untuk meningkatkan daya jangkau dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil, baik di seluruh nusantara maupun di berbagai belahan dunia.

Sejak diresmikan pada tahun 1984, UT mendapatkan mandat dari pemerintah untuk memberikan kesempatan yang sangat luas kepada semua warga negara Indonesia, baik yang baru lulus SLTA maupun yang sudah bekerja untuk mengikuti pendidikan tinggi tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, umur, dan tempat tinggal mereka. Sistem pembelajaran UT memungkinkan belajar yang fleksibel kepada mereka yang tidak memperoleh kesempatan mengikuti sistem pendidikan tinggi tatap muka.

Tanpa memandang kondisi mahasiswa, sistem belajar terbuka dan jarak jauh yang diterapkan UT membantu pencapain tujuan belajar karena:

  • tidak ada pembatasan jangka waktu penyelesaian studi dan tidak memberlakukan sistem drop out;
  • tidak ada pembatasan, baik tahun kelulusan ijazah SLTA maupun umur;
  • waktu pendaftaran (registrasi) leluasa sepanjang tahun;
  • ruang, waktu, dan tempat belajar yang fleksibel sesuai dengan kondisi mahasiswa;
  • penggunaan materi belajar multimedia, termasuk bahan belajar cetak baik yang dilengkapi dengan kaset audio dan video/CD, CD-ROM, siaran radio dan TV, maupun bahan belajar berbasis komputer dan internet.

Dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 460.000, UT tergolong dalam “The Top Ten Mega University of the World” dan salah satu anggota sekaligus pendiri “The Global Mega-University Network (GMUNET). GMUNET didirikan pada tahun 2003 merupakan jaringan universitas terbuka seluruh dunia dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar lebih dari 100.000 orang

UT telah mendapatkan akreditasi, baik akreditasi nasional maupun internasional. Secara internasional, UT telah memperoleh Akreditasi Internasional dan Sertifikasi Kualitas dari the International Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA), dan UT telah mendapatkan ISO dan SGS 9001:2000 dalam berbagai bidang dari Badan Sertifikasi SAI Global dan SGS. Di samping itu, sebagian besar program studi di UT telah mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Saat ini UT memiliki empat fakultas dan satu program pascasarjana yang menawarkan lebih dari 30 program studi dengan jenjang yang bervariasi meliputi: Program Magister, Program Sarjana/S1, Program Diploma(D1, D2, D3 dan D4), dan Sertifikat. Di antaranya adalah program D2 Ilmu Perpustakaan yang merupakan objek studi dalam penelitian ini.

Metodologi Penelitian

Dalam semua kegiatan penelitian pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Negeri Malang (2000:15) dikemukakan bahwa rancangan penelitian merupakan statu strategi untuk mengatur latar penelitian agar peneliti dapat memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variable dan tujuan penelitian.

Rancangan penelitian ini digunakan sebagai patokan dalam mengadakan kegiatan penelitian. Dalam kegiatan penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan studi eksploratori. Menurut Setyadin (2005:12) exploratory study merupakan sebuah kegiatan penelitian yang berusaha mengumpulkan indikator-indikator data variabel, kemudian menganalisisnya untuk menemukan konsep atau teori baru.

Sebagaimana dijelaskan pada bagian rancangan penelitian, bahwa penelitian ini termasuk dalam katagori penelitian eksploratori yang berusaha mengkaji objek penelitian melalui pengumpulan indikator-indikator data variabel. Dalam penelitian hanya mendeskripsikan variable tunggal. Tidak berusaha mengungkapkan hubungan antar variable maupun antar sub variabel. Variabel yang dimaksudkan adalah data yang berkaitan motivasi masyarakat khususnya mahasiswa mengikuti kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan

Variabel motivasi memiliki dua sub-variabel yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik sebagai sub variabel memiliki tiga indikator yang berupa harapan, minat dan bakat. Sedangkan sub variabel motivasi ekstrinsik memiliki indikator yang berupa dorongan dari orang lain, kondisi ekonomi, prospek karir lulusan, sistem pendidikan dan tenaga pengajar.

Pada bagian pendahuluan telah disebutkan bahwa jumlah mahasiswa program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan sebanyak 184 mahasiswa yang terbagi menjadi 5 kelas tutorial. Karena itu maka penelitian ini menggunakan studi sampel yang diupayakan dapat mewakili populasi dengan memperhatikan kelas tutorial.

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, atau sejumlah atau kumpulan benda yang menjadi obyek penelitian. Dalam hal ini maka jumlah populasi adalah 184. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dipandang dapat mewakili populasi. Dengan menggunakan prinsip area random sampling maka diambil 40 mahasiswa sebagai sampel penelitian yang terdiri dari 8 mahasiswa kelas Arjosari dan 32 mahasiswa kelas Pacitan Bangunsari.

Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini diperlukan adanya metode penelitian dan instrumen penelitian. Metode penelitian haruslah dibedakan dengan instrumen penelitian. Metode penelitian adalah metode yang digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah yang muncul dalam bagian rumusan masalah. Untuk mengumpulkan data tentang motivasi mahasiswa mengikuti kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan digunakan metode angket. Sedangkan instrumen adalah alatnya atau disebut juga sebagai alat bantu sebuah metode atau alat yang digunakan untuk mengumpulkan data sesuai dengan metode yang digunakan.

Data hasil penelitian tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif yang berupa prosentase dengan memperhatikan kemungkinan pencapaian kumulatif skor tertinggi suatu variabel berdasarkan skor skala penilaian dan kemungkinan pencapaian skor kumulatif variabel yang sama serta interval kelas yang terdiri dari tiga macam kategori, yaitu tinggi sedang dan rendah.

Hasil Penelitian

Dari hasil perhitungan dan analisis terhadap hasil penelitian yang dilakukan dapat dikatakan bahwa:

Faktor 1 menggambarkan tentang motivasi mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah ingin mendapatkan ilmu perpustakaan, usaha di bidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 1 sampai dengan nomor 4 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 20 dan skor terendah adalah 4 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 32 orang (80%) sedangkan 8 orang (20%) lainnya bermotivasi sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.

Faktor 2 menggambarkan tentang motivasi mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah minat di bidang ilmu perpustakaan dan minat di bidang ilmu informasi.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 5 dan 6 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah, serta skor tertinggi adalah 10 dan skor terendah adalah 2 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 33 orang (82,5%) sedangkan 7 orang (17,5%) lainnya bermotivasi sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.

Faktor 3 menggambarkan tentang motivasi mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah bakat di bidang ilmu perpustakaan dan bakat di bidang ilmu informasi.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 7 dan 8 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 10 dan skor terendah adalah 2 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 18 orang (45%) sedangkan 20 orang (50%) lainnya bermotivasi sedang, dan 2 orang (5%) motivasinya rendah.

Faktor 4 menggambarkan tentang motivasi eksintrik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah adanya dorongan dari guru, orang tua, teman dan dorongan dari masyarakat.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 9 sampai dengan nomor 12 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 20 dan skor terendah adalah 4 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 7 orang (17,5%) sedangkan 25 orang (62,5%) lainnya bermotivasi sedang dan 8 orang (20%) motivasinya rendah.

Faktor 5 menggambarkan tentang motivasi ekstrinsik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah faktor biaya masuk kuliah, biaya selama kuliah dan faktor ekonomi orang tua.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 13 sampai dengan nomor 15 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 15 dan skor terendah adalah 3 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 24 orang (60%) sedangkan 8 orang (20%) lainnya bermotivasi sedang dan 8 orang (20%) motivasinya rendah.

Faktor 6 menggambarkan tentang motivasi ekstrinsik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah faktor kemudahan untuk bekerja di bidang pendidikan, bekerja di bidang perpustakaan dan juga kemudahan bekerja di bidang informasi.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 16 sampai dengan nomor 18 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 15 dan skor terendah adalah 3 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 27 orang (67,5%) sedangkan 13 orang (32,5%) lainnya bermotivasi sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.

Faktor 7 menggambarkan tentang motivasi ekstrinsik mahasiswa memilih kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan diantaranya adalah kemudahan sarana transportasi dalam mengikuti tutorial, dapat kuliah di perguruan tinggi negeri, tutor atau dosen yang berkualitas dan berkompetensi dalam bidangnya serta sistem perkuliahan dengan modul.

Data tentang motivasi ini diperoleh dari kuesioner nomor 19 sampai dengan nomor 22 dengan 5 alternatif jawaban. Dengan mengelompokkan data dalam tiga interval yaitu tinggi, sedang dan rendah serta skor tertinggi adalah 20 dan skor terendah adalah 4 dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang motivasinya tinggi sebanyak 25 orang (62,5%) sedangkan 14 orang (35%) lainnya bermotivasi sedang dan 1 orang (2,5%) yang motivasinya rendah.

Berdasarkan semua faktor diteliti yaitu dari faktor 1 sampai dengan faktor 7 dapat dikatakan bahwa 27 orang (67,5%) memiliki motivasi yang tinggi untuk kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan, sebanyak 13 orang (22,5%) motivasinya sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah.

Kesimpulan dan saran

Motivasi berasal dari kata motif yang berarti dorongan atau alasan. Motif merupakan tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia bertindak atau melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan.

Penelitian ini dilakukan di Pacitan dengan mengambil objek mahasiswa program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan dengan populasi sebesar 184 orang. Dengan menggunakan prinsip area random sampling maka diambil 40 mahasiswa sebagai sampel penelitian yang terdiri dari 8 mahasiswa kelas Arjosari dan 32 mahasiswa kelas Pacitan Bangunsari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27 orang (67,5%) memiliki motivasi yang tinggi untuk kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan, sebanyak 13 orang (22,5%) motivasinya sedang dan tidak ada yang motivasinya rendah. Faktor minat belajar di bidang perpustakaan dan informasi menempati peringkat tertinggi disusul dengan faktor harapan untuk bekerja di bidang pendidikan dan perpustakaan serta informasi, kemudian disusul dengan faktor prospek pekerjaan menempati urutan ketiga. Sedangkan faktor dorongan dari pihak luar menempati posisi terendah dalam mempengaruhi seseorang untuk kuliah program D2 Jurusan Perpustakaan UPBJJ – UT Malang Pokja Pacitan.

Penelitian ini bersifat deskriptif, menggambarkan sesuatu yang menyebabkan adanya perilaku seseorang dalam bertindak. Faktor ini dinyatakan oleh para ahli pendidikan sebagai faktor yang memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar. Karena itu diperlukan penelitian berikutnya yang berkaitan dengan hubungan motivasi masuk kuliah dengan prestasi belajar mahasiswa.

Daftar Pustaka

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hasibuan. 2003. Organisasi dan motivasi dasar peningkatan produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwanto. 1995. Analisis pembelajaran. Jakarta: Ditjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sardiman. 2001. Interaksi & motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Grafindo Persada

Setyadin, Bambang. 2005. Reduksi data melalui analisis faktor eksploratori. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Kuantitatif di Malang. Malang: Pusat Penelitian Universitas Negeri Malang tanggal 8-12 Desember.

Siagian, S.P. 2002. Kiat meningkatkan produktivitas kerja. Jakarta: Rineka Cipta.

Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Thoha. M. 2004. Perilaku organisasi konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman penulisan karya ilmiah: skripsi, tesis, disertasi, artikel, makalah, laporan penelitian. Edisi keempat. Malang: BAAK.

Universitas Terbuka. 2010. Visi dan Misi. http://www.ut.ac.id. Diunduh tanggal 10 Mei 2010.


Sumber : library.um.ac.id

Terkini

More Post »

Software

More Post »

Request Mahasiswa

pacitan SLIMS
Dwonload SLiMS/Senayan 5 (Meranti) (Senayan source)
Untuk Portable Senayan masih belum tersedia / Portable Senayan is not available yet